Review Buku | Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه

Buku ini mungil saja. Hanya berukuran 10,5 × 15 cm. Lebih besar dikit dari saku. Tapi isinya memuat gimana sekilas kisah tentang Abu Bakar secara runut dengan berdasarkan sumber yang shahih. Selain itu, diksinya juga ringan dan bukan buku terjemahan lho. Jadi ya nyaman aja untuk dinikmati.

Berikut catatan singkatku tentang kisah Abu Bakar dari buku ini.

Nama asli beliau adalah Abdullah. Beliau dipanggil Abu Bakar (diambil dari kata al-Bakr yang artinya unta muda), karena dahulunya beliau gemar bermain-main dengan anak unta. Adapun gelar ash-Shiddiq dikarenakan beliau senantiasa membenarkan Rasulullah ﷺ.

Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه, orang pertama dari kalangan lelaki yang memeluk Islam. Beliau terang-terangan menyatakan keIslamannya, kemudian dipukuli hingga tak sadarkan diri. Namun yang beliau khawatirkan setelah sadarnya adalah kondisi Rasulullah ﷺ.

Pengorbanan harta jangan ditanya. Banyak budak beriman yang beliau bebaskan dari tuannya. Saat diminta, tak segan beliau mewakafkan seluruh harta untuk kepentingan kaum muslimin.

Betapa banyak deret keutamaan Abu Bakar yang dituliskan dalam buku bercover biru dengan gambar potongan pedang di depannya. Maka sungguh pantas beliau disebut-sebut sebagai sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan Rasul.

Dan lihat bagaimana Abu Bakar menjadi orang yang paling tenang sikapnya menghadapi musibah terbesar kaum Muslimin, yakni wafatnya Rasulullah ﷺ. Sementara kaum muslimin kala itu dihinggapi pukulan yang amat berat. Bahkan Umar saja berteriak-teriak marah mengancam orang yang mengatakan Rasulullah wafat.

Abu Bakar berkata, “Amma ba’du, siapa di antara kalian yang menyembah Muhamamad, ketahuilah bahwa Muhammad telah mati. Dan siapa di antara kalian menyembah Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.” (Hlm. 74)

Abu Bakar kemudian membacakan QS. Ali Imran 144 di hadapan khalayak. Ayat yang menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ hanyalah seorang nabi sebagaimana para nabi yang diutus sebelumnya.

Kisah beliau di buku ini berlanjut hingga beliau menjadi khalifah kaum muslimin. Beliau memerangi kabilah-kabilah yang murtad maupun yang enggan membayar zakat. Beliau juga mengirim pasukan untuk menumpas para nabi palsu yang bermunculan di jazirah arab.

Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar inilah jalan untuk menaklukan Persia (Irak) terbuka. Beliau memerintahkan Khalid bin Walid untuk memimpin penaklukan demi penaklukan di sepanjang wilayah Syam dan Irak. Tapi perlu menjadi catatan penting di sini bahwa penyebaran Islam bukanlah seperti anggapan orang-orang bahwa Islam disebarkan dengan pedang. Sungguh tidak demikian.

“…. Ia adalah bentuk pencerahan demi menyelamatkan umat manusia dari peribadatan pada sesama manusia menuju peribadatan pada Pencipta manusia. Menghapuskan kezhaliman dan perlakuan para raja zhalim yang sewenang-wenang memperbudak manusia. ….” (Hlm. 127)

Penyebaran dakwah ini nggak langsung dengan perang lho. Ada langkah-langkahnya. Rasulullah ﷺ mengirimkan surat terlebih dahulu menawarkan penguasa setempat ajakan ke jalan Allah yang lurus. Alias diajak masuk Islam. Kalau ditolak, ada opsi kedua yakni membayar jizyah (semacam pajak). Tetap nolak juga, baru penguasanya diperangi. Nah, berperang pun ada adab-adabnya. Seperti dilarang membunuh orang yang sudah menyerah atau rakyat yang tidak ikut berperang. Nggak ada cerita jugun ianfu, kerja rodi, dll dalam sejarah penaklukan Islam.

Mengenai kisah Khalid bin Walid menurutku cukup istimewa. Khalid adalah sosok yang cerdas dan piawai dalam menyusun strategi peperangan. Tentu di samping itu, Khalid merupakan sosok pemberani yang mengidamkan syahid di medan jihad. Beliau adalah salah satu pedang Allah yang terhunus.

Pernah suatu ketika Umar menyarankan Abu Bakar untuk mengganti posisi Khalid. Umar punya pertimbangan sendiri mengenai hal ini. Abu Bakar menjawab, “Aku tidak akan menyarungkan pedang yang dihunuskan Allah kepada kaum kafir.” (Hlm. 107)

Abu Bakar berpulang di usia 63 tahun dan dikuburkan di sebelah Rasulullah ﷺ. Kepala beliau sejajar dengan bahu Rasulullah ﷺ.

Masya Allah, menurutku buku ini benar-benar menjadi salah satu buku wajib baca. Oya, buku ini merupakan serial pertama dari 4 buku Serial Khulafa Ar-Rasyidin. Berturut-turut setelahnya ada buku tentang Umar bin Khattab (di sini dijelaskan mengapa Umar memutuskan mengganti Khalid bin Walid dengan Abu Ubaidah sebagai panglima perang), Ustman bin Affan, juga Ali bin Abi Thalib. Ayo, miliki semua serialnya. Hahaa…. kok jadi semacam ngiklan ya.

Teriring doa dan harapan, semoga Allah meridhai Abu Bakar dan para sahabat yang lain.

Judul buku: Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, Sebaik-baik Manusia Setelah Nabi & Rasul

• Penulis: Abu Jannah

• Penerbit: Pustaka Al-Inabah

• Cetakan: Pertama, Mei 2017

• Tebal: 168 hlm

Cinta Ibu

Ada seorang ibu pernah ditanya, “Siapa anak yang paling kau cintai?”

Dia menjawab, “Anakku yang sakit sampai ia sembuh, anakku yang pergi sampai ia kembali, anakku yang kecil sampai ia dewasa. Aku cintai mereka semua sampai aku mati …”

— Sumber: @abinyasalma

Berkebun

Di antara beberapa hal yang ingin aku lakukan, tapi belum kulakukan sampai sekarang, adalah berkebun. Ya, berkebun.

Pict by Pexels

Aku ingat, dulu ketika aku masih kanak-kanak, aku terpesona dengan ide apotek hidup yang aku baca dari sebuah buku. Apotek hidup itu berupa kebun kecil di pekarangan rumah yang ditumbuhi aneka tanaman obat. Waaah, membayangkannya saja alangkah menyenangkan.

Ada ragam obat yang disediakan oleh alam. Seperti kunyit, jahe, daun jambu biji, jeruk nipis, dan lain-lain. Masya Allah.

Sayangnya, aku tumbuh besar dengan tidak setelaten itu. Maksudku tidak telaten dalam urusan tanam-menanam. Tapi keinginan berkebun rupanya tetap ada. Bahkan saat ini cukup kuat.

Aku ingin mengolah pekarangan rumah menjadi kebun yang kaya tanaman bermanfaat. Untuk bumbu dapur dan obat-obatan alami. Sayuran juga buah-buahan.

Tapi aku nggak tahu kapan memulainya. Pastinya nggak sekarang. Mungkin nanti kalau aku sudah melahirkan dan anak bungsuku tumbuh lebih besar. Sekitar 3 atau 4 tahun lagi. Insya Allah.

Semoga Allah masih memberiku waktu, kesempatan, kesehatan, kemudahan dan semangat tinggi untuk berkebun. Aamiin ya Allah.

Dua Garis

Ini bukan dua garis merah pertama dalam hidup saya. Malah sudah yang kelima. Dengan riwayat keguguran dua kali. Bukan surprise juga. Karena saya sudah menduganya dan merencanakannya. Masa sih saya merasa cukup dengan dua anak? Jadi ya alhamdulillah. ^^

Pekan pertama ketika saya tahu bahwa saya hamil, semua tetap berjalan normal. Tubuh masih terasa bugar. Saya tetap mudik. Saya juga melanjutkan perawatan gigi. Dan saya turut berpartisipasi dalam keriuhan bazar di sekolah anak sulung saya. Jalan kaki saja dari rumah.

Pekan kedua, drama dimulai. Seperti kehamilan-kehamilan sebelumnya, saya kembali mengalami hipersalivasi. Qadarullah wa masya a fa’ala.

Air liur saya berlimpah ruah. Mulut saya pun menjadi selalu penuh. Meludah? Beberapa detik sekali saya lakukan. Bicara? Sepertinya kecerewetan saya di rumah berkurang hampir 50%.

Saya juga agak malas jalan keluar, kecuali untuk hal-hal penting saja. Itu pun mesti dengan mengulum permen. Untuk membantu saya menelan air liur dan meminimalisir rasa mual.

Tapi meski begitu, saya katakan pada diri saya bahwa saya akan bertahan. Saya harus menjalaninya dengan kuat dan sabar. Bukankah saya juga mau punya bayi lagi? Yang lucu dan gemesin. Yang imut dan menenangkan hati.

Kadang saya iri dengan ibu-ibu lain. Yang kehamilannya seolah tanpa beban. Tetap berenergi. Dan tentu saja tanpa hipersalivasi. Tapi saya pikir-pikir lagi, tak apa lah begini. Toh, setiap orang punya ujian berbeda-beda dalam hidupnya.

Saya berharap, semoga saja ini bisa menjadi penggugur dosa-dosa saya. Terutama dosa yang berkaitan dengan lisan. Aamiin ya Allah.

Udara

Aku menghirup nafas dalam-dalam dan menikmati betapa nyamannya ketika udara segar berebut memenuhi rongga hidung hingga paru-paru. Dengan izin Allah, terus ia menyokong seluruh sendi kehidupanku dan setiap makhluk bernyawa lainnya. Alhamdulillah.

Aku jadi ingat beberapa bulan lalu. Saat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengepung Kota Palangkaraya. Udara tak hanya kotor. Tapi juga berbahaya. Aktivitas luar rumah pun dibatasi. Sekolah diliburkan. Kota menjadi sepi. Itu merupakan periode sulit untuk warga kota.

Alhamdulillah masa-masa itu segera sirna di waktu yang Allah kehendaki. Dia berkenan mengakhiri kemarau dan menurunkan hujan di kota kami setelahnya. Titik-titik api padam. Gumpalan asap pun tak berjejak. Berganti dengan udara segar dan aroma petrikor.

Lihat! Begitu mudah bagi Allah untuk mencabut maupun mengembalikan ragam nikmat penyokong kehidupan kita. Termasuk nikmat menghirup udara segar. Nikmat yang kerap kita anggap biasa dan luput dari rasa syukur, karena hampir setiap saat terpenuhi. Padahal jika satu nikmat ini saja Allah cabut, maka hidup kita tak akan lagi sama. Bahkan mungkin hanya tinggal cerita.

After Life

Apakah kamu percaya dengan adanya kehidupan setelah kehidupan saat ini?

Aku? Sepenuhnya percaya.

Bahwa setelah kehidupan saat ini akan aku lalui sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah.

Bahwa perjalanan panjang yang akan aku lalui kelak membutuhkan perbekalan cukup.

Bahwa perbekalan yang aku butuhkan harus aku kumpulkan di kehidupan saat ini.

Kehidupan saat ini bukan ruang istirahat. Tapi ruang perjuangan. Untuk menentukan apakah di kehidupan selanjutnya aku benar-benar layak beristirahat atau justru tak bisa sama sekali.

Semoga Allah masukkan aku (dan kamu juga) ke dalam golongan orang-orang yang diridhoiNya. Aamiin ya Allah.

Kutipan

Karakter Musibah

Wahab bin Munabbih mengatakan:

ما من شيء إلا يبدو صغيرا ثم يكبر إلا المصيبة فإنها تبدو كبيرة ثم تصغر

“Segala sesuatu pada awalnya kecil lantas membesar kecuali musibah. Pada awal terjadinya musibah itu besar. Seiring berjalannya waktu musibah tersebut mengecil.” (Hilyatul Auliya 4/63).

Musibah itu mudah mengecil jika orang yang mengalaminya tidak memikirkannya dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat.

Akan tetapi musibah tak kunjung mengecil jika orang yang mengalaminya selalu duduk termenung memikirkannya.

— Ustadz Aris Munandar Jogja