Buku

Ulasan Buku | Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela – Tetsuko Kuroyanagi

Sudah lama aku membeli buku ini. Tepatnya sejak tahun 2011 buku ini berjejal di antara deret koleksiku. Tapi baru kali ini aku benar-benar “membacanya”.

Dulu, aku sepertinya kurang menikmati keseruan kisah Totto-chan. Tapi sekarang aku cukup menikmatinya dan memahami mengapa banyak praktisi pendidikan yang mengatakan buku ini bagus. Mungkin karena aku sudah bertransformasi menjadi seorang ibu. Peran yang otomatis membuatku berhadapan dengan polah anak-anak setiap hari.

Buku ini merupakan kisah nyata masa kecil Tetsuko Kuroyanagi, yang dipanggil dengan nama Totto-chan, selama ia bersekolah di Tomoe Gakuen. Kisahnya diawali dengan dikeluarkannya Totto-chan dari Sekolah Dasar. Hal yang dirahasiakan mamanya dari Totto-chan hingga ia berusia 20 tahun. Pilihan sikap bijak seorang ibu. Karena harga diri dan mental Totto-chan sesungguhnya dipertaruhkan di sini.

Mama tidak bilang kepada Totto-chan bahwa dia dikeluarkan dari sekolah. Dia tahu, Totto-chan takkan mengerti mengapa dia dianggap telah berbuat salah dan Mama tidak ingin putrinya menderita tekanan batin, jadi diputuskan untuk tidak memberitahu Totto-chan sampai dia dewasa kelak. Mama hanya berkata, “Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.” (Hlm. 18)

Petualangan Totto-chan pun bermula di Tomoe Gakuen, sebuah sekolah yang menerapkan kurikulum bebas dan unik. Mr. Sosaku Kobayashi, sang Kepala Sekolah, yang merancang sistem pendidikan di sekolah itu. Ia digambarkan sebagai sosok yang amat mengerti polah anak-anak dan senantiasa berusaha membesarkan jiwa para muridnya.

Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-chan sampai selama itu. Lagi pula Mama dan guru wali kelasnya yang dulu pasti heran kalau tahu ada anak umur tujuh tahun yang bisa menemukan bahan obrolan untuk diceritakan selama empat jam penuh tanpa henti. (Hlm. 27)

Kebanyakan orang dewasa, jika mendapati Totto-chan dalam situasi seperti itu, akan bereaksi dengan berteriak, “Apa-apaan ini?” atau “Hentikan, itu berbahaya!” atau malah menawarkan bantuan.

Bayangkan, Kepala Sekolah hanya berkata, “Kau akan memasukkan semua kembali kalau kau sudah selesai kan?” (Hlm. 59)

Bagian kisah yang paling aku sukai dari buku ini adalah “Kau Benar-benar Anak Baik”. Sebuah afirmasi positif dari Mr. Kobayashi yang bahkan hingga Totto-chan dewasa masih terus ia gaungkan untuk dirinya sendiri. Berikut cuplikan kisahnya.

“Kau benar-benar anak baik, kau tahu itu, kan?”

Itu yang selalu dikatakan Kepala Sekolah setiap kali dia berpapasan dengan Totto-chan. Dan setiap kali Kepala Sekolah mengatakannya, Totto-chan tersenyum, melompat rendah, lalu berkata, “Ya, aku memang anak baik.” Dan ia mempercayai kata-kata itu.

….

Apa yang Kepala Sekolah ingin agar dimengerti oleh Totto-chan adalah sesuatu yang seperti ini: “Ada orang yang mungkin berpendapat kau bukan anak baik dalam hal-hal tertentu, tapi watakmu yang sesungguhnya tidak buruk. Banyak watak baik dalam dirimu dan aku tahu itu.”

….

Mungkin kata-kata penting itulah yang telah menentukan arah seluruh hidupnya kemudian, “Totto-chan, kau benar-benar anak baik, kau tahu itu, kan?”

(Totto-chan, hlm. 187, 189)

Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak karena lingkungan mereka atau karena pengaruh-pengaruh buruk orang dewasa. Mr. Kobayashi berusaha menemukan “watak baik” setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas. (Hlm. 251)

Oya, buku Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela ini diselesaikan oleh Kuroyanagi pada tahun 1982. Lebih tua dari usiaku. Hihihi. Sementara Tomoe Gakuen di masa itu sudah tidak ada lagi. Tomoe terbakar habis di tahun 1945 karena terkena bom.

Hingga Mr. Kobayashi meninggal di tahun 1963, tak ada lagi sekolah seperti Tomoe Gakuen yang bisa ia bangun kembali. Namun kecuali itu, Totto-chan dan teman-teman sekelasnya melanjutkan hidup dengan baik.

Totto-chan memang tidak mampu memenuhi janjinya pada Mr. Kobayashi untuk menjadi seorang guru. Tapi buku ini, buku yang ditulisnya, telah menjadi warna baru dan inspirasi bagi dunia pendidikan di negaranya. Isi buku ini bahkan dijadikan materi pengajaran di sekolah.

Buatku secara pribadi, buku ini memang cukup istimewa. Tentu saja ada beberapa hal di Tomoe Gakuen seperti euritmik, acara renang, dll yang tidak aku setujui. Tapi ragam hal lain, seperti kesiapan mendengarkan, sistem belajar, guru pertanian, bekal makanan, afirmasi positif, dst merupakan konsep yang menarik.

Selain itu, beberapa pilihan sikap Mama Totto-chan dan Mr. Kobayashi menghadapi polah anak yang dikisahkan di buku ini seakan memberiku semangat baru. Bahwa aku harus bisa lebih baik daripada mereka dalam menghadapi polah anak-anakku. Semoga.

  • Judul buku: Totto-chan Gadis Cilik di Jendela
  • Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: Kedelapan, Februari 2011
  • Tebal: 272 hlm
  • Genre: Sastra anak, autobiografi

2 tanggapan untuk “Ulasan Buku | Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela – Tetsuko Kuroyanagi”

  1. Terima kasih untuk reviewnya Mba Zaleha. Saya suka banget sama buku ini, tapi udah lupa cerita detailnya, karena udah lama bacanya.

    Setelah buku ini ada buku keduanya Toto Chan’s Children

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s