Ulasan Buku | Belajar dari Istri Nabi – Muhammad Abduh Tuasikal

Blurb

Buku “Belajar dari Istri Nabi” ini adalah salah satu buku shirah atau sejarah yang juga merupakan sejarah hidup dari Nabi kita Muhammad ﷺ. Kita punya kewajiban mencintai semua istri nabi, bukan membencinya. Siapa yang membenci istri Nabi ﷺ seperti Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنها, hal itu bisa mencacati iman bahkan bisa dihukumi kafir. Oleh karena itu, penting sekali mengenal istri-istri Nabi ﷺ, setelah itu menggali pelajaran dari keutamaan mereka. Karena mereka lebih layak dijadikan suri tauladan termasuk dalam hal ittiba’ dan hidup berumah tangga.

Sebagai seorang muslim sudah semestinya mengenal istri Nabi dan pengenalannya sangat bagus lewat buku sederhana ini.


Belajar dari Istri Nabi, sebuah buku yang menarik hati saya sejak awal dipromosikan. Cover bukunya yang dominan berwarna merah muda, manis banget. Adem ngeliatnya.

Apalagi yang menulis buku ini adalah Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang saya kenal sebagai pengelola situs Rumaysho.Com. Tapi rupanya kiprah beliau tak hanya terbatas di Rumaysho.Com. Salah satunya, beliau mengemban amanah sebagai Pemimpin Pesantren Darush Shalihin di Dusun Warak, Gunungkidul.

Mengenai sekilas tentang isi buku sepertinya udah cukup jelas dituangkan via blurb yang saya tuliskan ulang di atas. Ya… isi bukunya itu shirah tentang Ummahatul Mukminin beserta keutamaan-keutamaan mereka yang ditulis dengan diksi sederhana dan mengalir. Bikin betah bacanya.

Menurut saya, kisah Ummahatul Mukminin ini sangat penting diketahui oleh kaum Muslimin. Terutama para perempuan. Jangan sampai lah kita nggak mengenal mereka, juga nggak tertarik mencari tahu bagaimana kisah mereka beserta keutamaan masing-masing dari mereka. Karena mereka adalah ibundanya orang-orang beriman. Mereka yang paling berhak dijadikan role model oleh kita semua, para perempuan masa kini.

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab 6)

Berdasarkan pendapat terkuat, Ummahatul Mukminin berjumlah sebelas orang. Enam orang dari Quraisy, empat dari kalangan Arab dan satu dari Bani Israil.

Berikut catatan saya setelah membaca kisah para Ummahatul Mukminin dari buku Belajar dari Istri Nabi.

▪ Khadijah binti Khuwailid

Tentang ibunda Khadijah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR. Ahmad)

▪ Saudah binti Jam’ah

Ibunda Saudah dikenal dengan akhlaknya yang mulia. Beliau sampai-sampai menghadiahkan giliran malam miliknya untuk Aisyah demi mendapatkan keridhaan Rasulullah ﷺ.

▪ Aisyah binti Abu Bakar

Dari ‘Amr bin Al-‘Ash, ia pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, “Siapa orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Ditanya lagi, “Kalau dari laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syariat tayamum rupanya turun lantaran Aisyah kehilangan sebuah kalung. Maka Usaid bin Hudhair berkata pada Aisyah, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan bagi kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada kisah ibunda Aisyah ini, penulis juga mengisahkan tentang haditsul ifki, yakni kisah Aisyah dituduh selingkuh. Rupanya ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa yang menimpa Aisyah tersebut. Diantaranya, bahwa di rumah tangga Rasulullah ﷺ yang penuh keshalihan pun ditemukan ada masalah. Maka diperlukan ketenangan dalam menghadapi masalah dan yakin akan selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikannya.

▪ Hafshah binti ‘Umar

Rasulullah ﷺ pernah menalak ibunda Hafshah lalu rujuk lagi. Beliau bersabda, “Jibril berkata kepadaku, ‘Kembalilah kepada Hafshah karena ia adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat malam, dan ia akan jadi istrimu di surga.” (Diriwayatkan oleh As-Suyuthi, shahih)

▪ Zainab binti Khuzaimah

Ibunda Zainab diberi gelar Ummul Masakin (ibunda kaum miskin), karena semangatnya berbuat baik pada orang miskin. Zainab meninggal ketika Rasulullah ﷺ masih hidup dan dikuburkan di Baqi’.

▪ Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah)

Ummu Salamah berucap, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, aku mengatakan, ‘Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah, sahabat Rasulullah ﷺ?’ Kemudian Allah memberikan petunjuk padaku (aku bertawakal dan pasrah kepada Allah) untuk tetap mengucapkan bacaan tadi.” Ummu Salamah pun berkata, “Rasulullah ﷺ pun akhirnya menjadi suamiku.” (HR. Muslim)

▪ Zainab binti Jahsy

Ia dikenal sebagai sosok yang amat wara’. Ketika ibunda Zainab ditanya tentang Aisyah terkait haditsul ifki, ia menjawab, “Wahai Rasulullah! Aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, yang aku tahu dia hanyalah baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)

▪ Juwairiyyah binti Al-Harits

Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan ibunda Juwairiyah merupakan pernikahan yang penuh berkah. Karena pernikahan tersebut menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari bani Mushthaliq.

▪ Ummu Habibah (Ramlah binti Abi Sufyan)

Dari istri-istri Rasulullah ﷺ, yang paling mahal maharnya adalah ibunda Ummu Habibah. Yakni 400 dinar (setara dengan sekitar 800 juta rupiah).

Aisyah berkata, “Ummu Habibah pernah memanggilku ketika akan meninggal dunia. Ia berkata, ‘Di antara kita pasti pernah ada masalah. Semoga Allah mengampuni aku dan engkau dari apa saja yang terjadi di antara kita.’ Aisyah pun berkata, ‘Semoga Allah memaafkanmu atas seluruh kesalahanmu dan menghalalkan itu semua.’ Ummu Habibah lantas berkata, ‘Engkau telah membahagiakanku, semoga Allah juga memberi kebahagiaan untukmu.’ Ummu Habibah juga menyatakan pada Ummu Salamah seperti itu pula. (HR. Abu Sa’ad dan Ibnu ‘Asakir, walaupun sanadnya dhaif sekali)

▪ Shafiyyah binti Huyay

Ibunda Shafiyyah pernah datang menangis menemui Rasulullah ﷺ lantaran Hafshah memanggilnya dengan sebutan anak perempuan Yahudi. Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Sesungguhnya engkau termasuk putri Nabi, pamanmu seorang Nabi, dan sekarang berada dalam perlindungan seorang Nabi, bukankah itu sudah jadi suatu kebanggaan?” Beliau kemudian mengatakan, “Wahai Hafshah, bertakwalah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Aisyah berkata, “Aku berkata kepada Nabi ﷺ, ‘Cukup sudah engkau berkata tentang Shafiyyah seperti ini dan itu, ia itu wanita yang pendek (sambil berisyarat dengan jari).’ Nabi ﷺ pun bersabda, ‘Sungguh engkau telah mengatakan suatu perkataan yang andai saja tercampur dengan air laut, kalimat itu akan mengotorinya.’ (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

▪ Maimunah binti Al-Harits

Rasulullah ﷺ pernah memuji Maimunah dan saudari-saudarinya. Beliau bersabda, “Perempuan-perempuan beriman yang bersaudara adalah Maimunah istri Nabi, Ummu Fadhl binti Al-Harits, Salma istrinya Hamzah (bin Abdul Muthalib), dan Asma binti Umais. Mereka semua saudara seibu.” (HR. Ibnu Sa’ad, Ibnu Mandah, Al-Hakim dan Ibnu ‘Asakir)


Masya Allah. Semoga Allah meridhoi mereka semua, para Ummahatul Mukminin. Semoga pula Allah memudahkan langkah kita, para perempuan akhir zaman, agar bisa mencintai dan meneladani kebaikan ibadah dan akhlak mereka. Aamiin ya Allah.

  • Judul buku: Belajar dari Istri Nabi
  • Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
  • Penerbit: Rumaysho
  • Cetakan: Pertama, November 2018
  • Tebal: 110 hlm
  • Rating: 😊

3 respons untuk ‘Ulasan Buku | Belajar dari Istri Nabi – Muhammad Abduh Tuasikal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s