Buku

Ulasan Buku | Ibunda Para Ulama – Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA

Jangan hanya bercerita tentang kecerdasan Imam Syafi’i, kealiman Sufyan Ats Tsauri, kezuhudan Hasan Al Basri, dan kesabaran Anas bin Malik. Tapi bacalah bagaimana Ibunda mereka!


Tadinya saya pikir buku Ibunda Para Ulama ini merupakan terjemahan. Dan tahu sendirilah kalau buku terjemahan itu –apalagi yang bicara sejarah– pada umumnya bakal membosankan. Tapi saya tetap ingin membacanya.

Alhamdulillah, rupanya tak seperti yang saya pikirkan. Buku ini ditulis oleh orang asli Indonesia dengan diksi yang mengalir ringan dan lincah. Saya pun terhanyut dengan ragam kisah para perempuan yang tangguh dalam mendidik anaknya di buku ini. Bahkan pada beberapa kisah, mata saya berkaca-kaca.

Berikut beberapa hal menarik menurut saya usai membaca buku dengan sampul dominan cokelat tsb.

Pertama. Saya mendapat satu pelajaran menarik dari kisah yang disajikan penulis pada muqaddimah. Yakni kisah yang beliau dapat dari ceramah DR. Muhammad al-‘Areefy. Kisah yang menegaskan bahwa kadangkala ibu lebih berperan dalam mendidik anak daripada ayah.

Beliau menceritakan tentang satu keluarga yang bisa dibilang sosok ayahnya biasa saja dalam hal beragama. Tapi anak-anaknya menerapkan sunnah dalam keseharian sedemikian rupa. Masya Allah.

Ketika ditanya, sang ayah menjawab bahwa hal tersebut merupakan hasil didikan ibunya. Ia mendidik anaknya dengan cara yang unik.

Bagaimana caranya? Yakni dengan mengajari bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan pribadinya, bahkan bagaimana memenangkan Allah di atas bisikan syaithan. Masya Allah.

Hiks. Saat membaca kisah ini saya merasa hanya remahan rengginang di kaleng khong guan. Tapi saya harus tetap memperjuangkan yang terbaik untuk anak-anak saya, bukan?!

Kedua. Air mata saya mengalir saat membaca kisah ‘Asma binti Abu Bakar. Bayangin, ketika putranya, Abdullah bin Zubeir, dibunuh secara dzalim oleh Hajjaj bin Yusuf, ‘Asma tetap tegar.

Bahkan ketika Ibnu ‘Umar datang untuk menghiburnya perihal penyaliban jasad sang putra, ‘Asma berucap: “Memangnya apa yang menghalangiku untuk sabar, sedangkan kepala Nabi Yahya bin Zakaria saja akhirnya dihadiahkan kepada seorang pelacur Bani Israel?”

Dari sosok seperti ‘Asma inilah terlahir pula ‘Urwah bin Zubeir, tokoh tabi’in yang dikatakan penulis betul-betul potret ‘orang akhirat’ sejati. Kisah kesabarannya ketika sang putra berpulang juga bagaimana dirinya saat proses amputasi kakinya itu benar-benar luar biasa. Masya Allah.

Ketiga. Makanan dan minuman berpengaruh terhadap kepribadian seseorang. Tentu tak hanya cukup dengan bergizi seimbang, tapi lebih dari itu. Yakni harus diperhatikan dari mana asal-usul makanan dan minuman tsb.

Begitu pula ASI yang masuk ke dalam tubuh bayi pun mesti diperhatikan. Karena akan berpengaruh pada bagaimana ia nantinya. Rasulullah ﷺ –dalam HR. Al-Baihaqy– melarang para orang tua menyusukan bayi mereka pada wanita yang dungu, karena ASI dapat mewariskan sifat-sifat ibu pada si bayi.

Ini note banget buat saya. Apalagi Rasulullah ﷺ juga menasihatkan: “Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, niscaya kamu menjadi orang yang mustajab do’anya. ….” (HR. Ath-Thabrani, dengan sanad dha’if jiddan). Saya nggak mau do’a menjadi nggak ampuh gara-gara kurang berhati-hati perkara pangan.

Keempat. Di antara para ulama itu, beberapa ada yang telah menjadi yatim sejak kecilnya dan hanya dibesarkan oleh sang ibu. Tapi masya Allah, meskipun single parent, para ibu itu tetap berjuang mengusahakan ilmu dan pendidikan agama terbaik untuk anaknya. Mereka rela berkorban waktu, harta, tenaga dan do’a demi masa depan sang buah hati.

Salah satunya, sebagaimana tersirat dalam nasihat yang disampaikan ibunda Sufyan ats-Tsauri. Beliau berpesan, “Wahai putraku, tuntutlah ilmu dan aku siap membiayaimu dari pintalanku. (Sang ibu bekerja memintal kapas menjadi benang, kemudian dijual). Wahai putraku, jika engkau telah mencatat 10 kebaikan, maka perhatikan; Apakah engkau bertambah takut, sabar dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfa’at bagimu.”

Kelima. Saya baru tahu kalau negeri Mauritania banyak melahirkan kader ulama dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Ciri khas mereka yakni memindahkan teks kitab ke dalam dada. Alias menghafalnya. Karena memang terbatasnya literatur ilmiah dalam bentuk kitab yang mereka miliki.

Bagian ini menjawab keraguan yang sempat bercokol di kepala saya terkait sistem pendidikan di sekolah anak saya. Bayangin, di tengah era modern dengan ragam teori pendidikan semacam montessori dll, sekolah masih menerapkan sistem yang mengarah ke tradisional.

Tapi sistem pendidikan tradisional memang nggak sepenuhnya mesti dimodernisasi sih. Karena ketradisonalan ini sebenarnya sudah terbukti mencetak generasi unggul. Seperti para ulama Mauritania itu.

Keenam. Cara berkomunikasi sesama orang cerdas itu beda. Dikisahkan bahwa seorang ulama Mauritania top yang terkenal jenius dan luar biasa hafalannya pernah menitipkan sejumlah hadiah untuk ibunya.

Bersama hadiah itu dikirimnya pula surat yang isinya semacam teka-teki gitu. Penulis mengungkapkan bahwa isinya hanya bisa difahami oleh mereka yang ahli bahasa sekaligus hafal sya’ir-sya’ir Arab berjumlah puluhan ribu bait. Tapi ibunya hanya dengan sekali baca, langsung memahami maksud sang anak. Bahkan menjelaskannya secara detail ketika ditanya. Masya Allah.

Ketujuh. Saya dibuat nangis lagi. Kali ini karena kisah ibunda Haritsah bin Suraqah, salah seorang sahabat yang gugur di Perang Badar. Namun Haritsah terbunuh sebelum perang dimulai di tangan sahabat yang lain, karena salah kira.

Maka bersedih lah sang ibunda. Tapi bukan kematian putranya yang membuat air matanya berderai. Melainkan kekhawatirannya akan nasib putranya. Berada di Jannah kah atau tidak?

Maka ketika Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa putranya berada di Firdaus yang paling atas, baru reda tangisnya dan tenang hatinya. Masya Allah.


Masya Allah. Barokalallahu fiikum penulis dan tim penerbit yang sudah berjuang untuk kelahiran buku ini. Sebuah buku yang isinya sarat ilmu. Terutama buat ibu (dan calon ibu) yang masih harus terus belajar banyak macam saya.

Ibu adalah madrasah
Yang bila kau siapkan dengan baik,
Berarti engkau menyiapkan generasi yang terdidik.

(Hafizh Ibrahim, penyair asal Mesir)

Semoga Allah memberi saya petunjuk. Aamiin ya Allah.

  • Judul buku: Ibunda Para Ulama
  • Penulis: Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA
  • Penerbit: Pustaka Al-Inabah
  • Cetakan: ke-11, Rajab 1440 H/ Maret 2019
  • Tebal: 302 hlm; 13 × 18 cm

3 tanggapan untuk “Ulasan Buku | Ibunda Para Ulama – Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s