Bagaimana Pandangan Saya Tentang …

Seorang kawan semasa SMA bertanya sesuatu pada saya. Via chat di whatsapp. Tentang isu klasik yang cukup sensitif bagi kaum hawa.

Apakah itu?

Yes! POLIGAMI. Kawan saya itu bertanya, bagaimana pandangan saya tentang poligami?

Wow. Saya pikir, saya harus hati-hati menjawabnya.

Saya bilang padanya, kalau saya suka dengan jawaban Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah ketika hadir pertanyaan seputar poligami.

Ustadz Syafiq menjawab, kalau poligami merupakan hukum Allah. Perkara yang tidak boleh ditentang.

Memang umumnya perempuan tidak suka suaminya berpoligami. Wajar saja. Akan tetapi tak boleh ia menyatakan tidak setuju dengan poligami. Itu penentangan terhadap hukum Allah. Bisa dihukumi kufur.

Bagi para suami, perlu diperhatikan bahwa poligami butuh persiapan. Butuh ilmu. Jangan hanya memikirkan enaknya saja. Karena salah sedikit tempatnya neraka.

Saat menerapkan poligami, maka suami harus memenuhi syarat-syaratnya. Seperti mampu berlaku adil. Termasuk di dalamnya menyediakan rumah masing-masing untuk setiap istri. Kemudian memberikan nafkah yang baik. Juga siap menghadapi badai.

Sebagian ulama menyatakan bahwa orang yang poligami itu seperti menabur pasir. Maka ia harus siap menuai badai.

(Ceramah lengkap bisa cari di Youtube dengan judul Ustadz Syafiq Riza Basalamah, Poligami yang Sesuai Sunnah Rasul)

Selain jawaban Ustadz Syafiq Riza Basalamah tersebut, saya juga mengemukakan pada kawan saya itu bahwa saya terkesan dengan jawaban Buya Hamka rahimahullah perihal poligami. Ini dituliskan oleh Irfan Hamka, putra Buya Hamka, dalam bukunya yang berjudul AYAH.

Saat itu Buya Hamka didatangi seorang perempuan yang mengadukan suaminya. Yep! Sang suami menikah lagi. Dan perempuan itu ingin meminta cerai.

Buya Hamka menyatakan bahwa beliau tidak menganjurkan perceraian. Tapi Buya Hamka juga berkata bahwa bukan hak beliau untuk meminta bersabar. Keputusan tetap diserahkan kepada perempuan tsb.

Selanjutnya Buya Hamka menjelaskan bahwa lelaki yang dikaruniai ‘bakat alam’ demikian, ada dua jenis. Pertama, lelaki yang takut kepada Allah, maka ia mencari jalan keluar yang halal. Yakni menikah lagi.

Kedua, lelaki yang tidak takut kepada Allah. Apalagi istrinya. Maka berbuatlah ia semaunya. Berzina, bahkan melakukan pemerkosaan.

Sementara perempuan sendiri (dalam perannya sebagai istri), juga ada dua jenis. Salah satunya, istri yang tidak takut kepada Allah. Apalagi suaminya. Maka ia melarang suaminya menikah lagi. Ia tak mampu melayani suami, juga tidak memberi solusi. Sehingga membuka peluang untuk suami berzina.

(Lengkapnya bisa dibaca di buku AYAH, hlm 2 – 6)

Hidup kita singkat saja. Hanya sementara. Bukan selamanya. Apa jadinya jika hidup yang singkat ini malah kita hiasi dengan penentangan terhadap hukum Allah?

Allahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s