Kemarau di Kota Palangkaraya

Kemarau.

Matahari bersinar terik hampir setiap hari di langit kota Palangkaraya. Sementara hujan tak kunjung turun. Kecuali malam yang dihiasi gerimis sekali dua kali.

Jalanan kering dan berdebu. Kebakaran hutan dan lahan gambut tak dapat terkendalikan. Dan bencana kabut asap pun kembali terulang.

Orang-orang luar Pulau Kalimantan pernah terdengar sesumbar tentang betapa mereka menginginkan tanah seperti tanah Borneo. Tanah yang tidak termasuk wilayah yang dilalui jalur cincin api. Sehingga secara teori potensi gempa dan tsunami hampir tidak ada. Apalagi ancaman gunung meletus. Kami tak punya gunung berapi di sini.

Tapi setiap daerah punya ujiannya sendiri. Dan sejak berminggu-minggu ke belakang hingga hari ini, kami yang di kota Palangkaraya tak dapat merasakan segarnya udara pagi. Pernapasan kami dijajah aroma kebakaran lahan. Paru-paru kami dijejali udara yang jauh dari ambang batas udara sehat. Kami dilanda bencana. Bencana kabut asap.

Saya yakin. Amat yakin. Tak hanya saya, tapi mungkin seluruh warga kota Palangkaraya ini sangat berharap turunnya hujan yang bermanfaat. Yang deras. Yang membasahi jalanan tak hanya di permukaannya. Tapi hingga ke lapisan terdalamnya. Yang memadamkan kebakaran di lahan gambut. Sampai benar-benar padam tanpa menyisakan jejak asapnya lagi.

Kami sungguh rindu suara hujan yang jatuh berdentingan di atap-atap rumah kami. Kami sungguh rindu aroma tanah basah yang menguar seusai hujan. Sebagaimana kami sungguh rindu nikmatnya udara pagi memenuhi lubang hidung dan terus hingga rongga dada kami.

Solusinya?

Saya tak akan ikut mencerca pemerintah dalam bencana ini. Saya tahu pemkot sudah berusaha. Helikopter yang hilir mudik tiap hari membawa air untuk memadamkan api di lahan gambut itu disewa dengan biaya yang tak murah. Kabarnya sehari memakan biaya milyaran. Dan pemkot menyewa beberapa buah.

Mengenai bagaimana secara teori ilmiahnya untuk mengatasi kebakaran lahan ini, saya yakin para ahli yang bergerak di bidang ini lebih memahami. Mereka aktif bersuara memberi masukan pada pemerintah. Mereka juga sedang berjuang.

Saya sendiri tidak melihat solusi terampuh mengatasi bencana ini, selain dengan meminta kepadaNya.

Untuk ranah publik, pemkot bisa menggelar sholat istisqa dan doa bersama untuk warga yang Muslim. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ. Di tanah lapang. Mungkin di bundaran besar. Atau di lapangan Sanaman Mantikei.

Sementara untuk diri pribadi, saya sepakat dengan pendapat agar setiap orang memperbanyak istighfar padaNya. Karena Allah sudah berfirman dalam QS. Nuh 10-11:

maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (10) niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (11)

Istighfar yang mungkin tak cukup hanya sekali. Yang harus tanpa putus asa hingga pintu langit terketuk. Hingga Allah berkenan menurunkan rahmatNya untuk kota cantik Palangkaraya ini. Insya Allah.

Pict by pixabay.com

Allahu ‘alam.