Memperkenalkan Kematian Pada Anak Lewat Buku “Berkumpul di Jannah”

Judul buku: Berkumpul di Jannah
Penulis: Canun Kamil & Fufu Elmart
Ilustrator: Vicky Andika & Laila Hafidhotul
Penerbit: Sakeena
Cetakan: pertama
Tebal: 36 hlm

Ini buku yang cukup lama aku nantikan. Bayangin, aku sudah ikut PO buku ini di salah satu lapak Shopee sejak bulan Januari, lho. Hingga akhirnya mendarat juga buku ini dengan selamat di tanganku pada awal april. Alhamdulillah.

Aku tertarik dengan buku ini karena isinya yang memperkenalkan konsep kematian pada anak dengan cara bahagia. Mengapa aku sebut bahagia? Karena sebenarnya memang kematian adalah awal dari perjalanan sekaligus harapan agar kelak bisa bertemu kembali dengan keadaan yang lebih bahagia.

Aku pernah membaca beberapa buku anak yang beraroma kematian. Rata-rata isinya lebih mengarah pada penguatan mental anak dalam menghadapi kesedihan. Aku nggak bilang itu nggak bagus. Tapi kupikir, selain kesedihan, anak juga perlu belajar menyikapi kematian dengan sudut pandang yang lain.

Duuuuuh, apa coba yang aku tulis di atas. Agak ribet ya 😅. Tapi intinya begitulah.

Kisah di buku ini diawali dengan kematian sang kakek. Hal yang melahirkan pertanyaan dari Awim dan Eliya pada ayah mereka.

Maka minggu depannya, Ayah mengajak Awim dan Eliya juga Bunda untuk berkeliling kota (mungkin) seraya menjelaskan apa itu kematian. Dimulailah petualangan Awim dan Eliya dari satu halaman ke halaman lain di buku yang full color ini.

Buku ini menjelaskan dengan bahasa yang cukup mudah dipahami anak (usia 5+) tentang beragam pertanyaan seputar kematian. Seperti pertanyaan: apa itu kematian, kapan kematian datang, apa itu husnul khotimah, bagaimana cara agar husnul khotimah, kemana setelah mati, juga seperti apa surga itu.

Cuman ada satu hal sih yang buatku agak mengganggu. Antara tulisan dan ilustrasi gambar ada sebagian yang kurang nyambung. Gimana ya ngejelasinnya? Intinya sih ilustrasinya kemana-mana (menurutku lho ya). Terlalu luas. Walaupun sebenarnya masya Allah cantik-cantik sekali.

Tapi kayaknya buat anak-anak sih nggak masalah. Buktinya sulungku bilang suka banget sama gambar-gambarnya yang full color itu.

Jadi tetap aku pikir buku ini bagus. Sejalan dengan apa yang ingin aku sampaikan pada para bocah di rumah tentang kematian. Dengan kata lain, aku nggak merasa rugi telah membeli buku ini untuk anak-anak.

#SehariSatuTulisan April 2019 #KLIP

Kabar untuk Bulan April

Selamat datang, April.

Seharusnya kemarin tulisan ini aku publikasikan. Jika memang tujuanku menulisnya adalah untuk menyambutmu. Tapi mau gimana lagi. Beberapa hari ke belakang, termasuk kemarin, aku cukup sibuk. Ups! Semoga bukan sok sibuk ya.

April, kamu tahu persis bahwa tak ada hal khusus tentangmu. Kamu sama seperti bulan-bulan lain bagiku. Tentu selain bulan Ramadhan.

Hanya saja, aku ingin bercerita. Tentang tiga kabar yang kuterima di akhir maret. Yang terjadi persis sebelum kedatanganmu.

Kabar pertama adalah kebahagiaan. Ia tentang pernikahan seorang kawan yang cukup spesial. Kabar ini seketika menghangatkan hati. Mengubah satu persepsi penting tentang sesuatu.

Maka aku prioritaskan diri untuk berusaha menghadiri walimah beliau. Ya, aku janji akan datang akhir pekan ini. Insya Allah.

Kabar kedua adalah kesedihan. Ia tentang berpulangnya seseorang yang aku kenal. Rupanya beliau telah berjuang hampir 13 bulan melawan kanker parotis stadium 4A. Menjalani rangkaian kemoterapi yang cukup panjang.

Tapi takdir Allah lah yang menjadi penentu. Beliau dijemput Izrail di usia muda. Mungkin hanya beberapa tahun lebih tua di atasku.

Kematian beliau ini terus terang seakan memberi pukulan untuk diriku pribadi. Bahwa hari ini beliau yang berpulang, besok bisa saja aku.

Semoga Allah merahmatinya, mengampuni dosanya, melapangkan kuburnya dan menerima semua amal baiknya. Semoga pula Allah memberikan kesabaran pada keluarga yang ditinggalkan.

Kabar ketiga adalah kebahagiaan lagi. Ia tentang kelahiran anak manusia dari seseorang yang juga aku kenal. Beliau ustadzahku. Guruku. Yang dari beliau selama beberapa bulan terakhir aku banyak belajar ilmu agama.

Mengapa spesial? Karena, selain beliau adalah guruku, kehamilan beliau sebenarnya hampir berbarengan dengan kehamilan keempatku.

Yang hanya bertahan kurang dari 3 bulan. Yang pernah aku keluhkan karena morning sickness yang cukup parah. Yang membuat sesal dan sedih setiap mengenangnya.

Tapi ya sudahlah. Mestinya tak ada celah untuk sesal. Karena semua memang tak lepas dari ketetapan Allah.

Tentu aku turut berbahagia dengan kelahiran putra beliau. Setelah sebelumnya putra beliau meninggal bahkan sebelum dilahirkan. Maka aku tahu, aku harus memberikan sesuatu untuk kelahiran yang spesial ini. Insya Allah.

Demikian, April.

#SehariSatuTulisan April 2019 #KLIP

📷 pixabay.com