Jebakan Perasaan! Mengubah Mindset tentang Makanan

Sejak beberapa bulan yang lalu saya diserang oleh penyakit kulit. Berupa bercak putih kemerahan yang menebal dan gatal. Di beberapa tempat. Antara lain di lutut, siku, jari kaki dan di atas mata kaki.

Sebelum memutuskan untuk ke dokter, saya sudah mencoba berobat mandiri. Mulai dari menggunakan salep sampai minum tablet. Saya juga membatasi diri dari mengkonsumsi ayam broiler dan telurnya. Karena saya curiga penyebabnya adalah alergi makanan.

πŸ“· pixabay.com

Dugaan saya tepat. Ini memang 100% alergi. Begitu yang dikatakan oleh Pak Dokter. Berikutnya dengan sigap asisten dokter mengeluarkan secarik kertas.

Isinya? Daftar makanan yang tidak boleh saya makan untuk sementara. Hanya selama masa pengobatan.

Setelah nanti sembuh saya harus mencoba makanan itu satu-persatu. Seperti bayi yang baru belajar makan. Tes alergi dulu.

Makanan yang boleh dimakan tentu saja ada. Seperti nasi, tahu, tempe, ikan haruan (gabus), ikan papuyu (betok), daging sapi, kecap, sayur-mayur dan buah-buahan.

πŸ“· pixabay.com

Ya, semua ragam makanan sehat yang tidak berpotensi memicu alergi boleh saya makan. Terbatas memang. Tapi harus saya ikuti jika saya ingin sembuh. Insya Allah.

Awalnya saya pikir untuk menjalani hari tanpa beragam makanan yang sebagian besar favorit saya itu berat. Bayangkan! Saya nggak boleh makan kacang-kacangan, ragam telur 🍳, ragam daging πŸ—, ragam ikan (termasuk ikan asin πŸ˜‘), udang 🍀, cokelat 🍫, snack πŸͺ, mie instan 🍝, es krim 🍦, terasi, makanan berpenyedap rasa, makanan kaleng, dll. Terus terang, saya merasa cukup horor karenanya.

Alhamdulillah itu hanya jebakan perasaan saja. Ketika dijalani, rupanya tak seberat itu kok. Ragam makanan yang boleh saya makan lebih dari cukup untuk menyumbangkan asupan energi harian.

Saya pun berusaha mengubah mindset tentang makanan ini. Saya akui, biasanya untuk urusan makanan saya berpanduan dengan apa yang nikmat di lidah. Dengan kata lain, mencari yang sesuai selera. Sekarang, saya coba hapus pemikiran begitu.

Saya menegaskan berulang kali ke diri saya, bahwa yang terpenting dari makanan bukan untuk memanjakan lidah. Tapi agar tubuh menjadi sehat dan bugar. Khusus untuk anak-anak ditambah dengan makanan yang menunjang tumbuh kembang optimal.

Dan alhamdulillah mindset begitu berhasil membuat selera makan saya tak berubah. Meskipun hanya dengan sajian yang sederhana saya tetap menikmatinya.

Bismillah. Semoga ini bisa sekalian menjadi awal untuk saya memulai pola hidup sehat dengan gizi seimbang.

πŸ“· pixabay.com

7 respons untuk β€˜Jebakan Perasaan! Mengubah Mindset tentang Makanan’

  1. Saya juga termasuk orang yang harus pilih-pilih makanan karena memiliki riwayat alergi makanan. Jujur tidak enak, karena ketika makan bersama teman-teman, tidak semua makanan bisa santap, harus hati-hati. Kalau tidak, kasihan hahahaha.

    Alergi protein dari telur paling sering, padahal cinta buanget sama makanan dengan produk telur. Tapi, demi kesehatan ya…terima.
    Kadang, bandel juga. Sok berani! tapi, sudah menyiapkan obat anti alergi di kantong terlebih dahulu. Kalau reaksi alergi muncul, langsung tangkal dengan obat!

    • Zaleha R berkata:

      Saya masih banyak pantangannya karena belum tahu alergi yang mana. Tapi saya masih curiga sama telur dan ayam broiler sih. Padahal banyak ya olahan makanan enak berbahan telur πŸ˜…

      • Saya lumayan gimana-begitu kalau soal makanan yang menyebabkan alergi. Saya bahkan punya daftar khusus makanan yang harus dihindari di cellphone (Termasuk obat yang bisa memicu reaksi alergi). Buat jaga-jaga sih hahahaha.

        Haduh Mbak, saya mengumpulkan daftar ini juga karena pengalaman tidak nyaman pas makan makanan yang menyebabkan reaksi alergi. Jadi, harus hati-hati. Karena kalau pas kena alergi, alamaaa menderitanya hahaha

      • Zaleha R berkata:

        Iya benar harus hati-hati… Kalau alergi kulit kambuh, gatalnya itu lho cukup mengganggu aktivitas

  2. Kayaknya sy jg alergi, gatal tak sembuh2, pindah tempat. Cuman kok males ya, neliti makanan mana aja, hehe… Puasa ini lumayan gatalnya berkurang.

    • Zaleha R berkata:

      Entah mengapa mendadak saya merasa menjadi semacam bahan penelitan bagi diri sendiri πŸ˜…. Ini gatal yang kemarin udah sembuh, qadarullah ada lagi titik baru gara-gara beli gorengan di warung beberapa kali, eh baru tau kalau ternyata mengandung telur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s