Cerpen Anak: Pangeran Malik yang Suka Usil

📷 pixabay.com

Akhir-akhir ini Pangeran Malik suka sekali berbuat usil. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat orang lain menjadi kesal.

Pangeran Malik menyembunyikan boneka milik adiknya, Putri Fatimah. Ia juga mengganti sirup gula dengan air garam saat pelayan membuatkan jus untuk kakaknya, Putri Sarah. Pangeran Malik pula pelakunya yang mengotori kolam ikan dengan benih siap semai milik tukang kebun istana.

Dan tentu saja tak hanya itu yang ia lakukan. Masih ada beberapa lagi deretan keusilannya. Ada yang tertangkap basah, ada yang tidak. Tapi jika ada kekacauan, semuanya tahu kalau itu pasti ulah Pangeran Malik.

Pangeran Malik sendiri menikmati keusilannya. Ia merasa amat lucu ketika melihat orang lain kebingungan dan kesal sendiri.

Bunda Permaisuri telah mendengar laporan tentang ulah buruk putranya. Maka Bunda pun memanggil Pangeran Malik.

“Saya hanya bercanda, Bunda…. Itu hanya untuk hiburan….” Pangeran Malik berkilah.

Bunda Permaisuri menghela nafas. Beliau berpikir bagaimana caranya agar Pangeran Malik mengerti tanpa merasa dihakimi.

“Ananda, apakah menurutmu perbuatan-perbuatanmu itu akan membuatmu disayang Allah?” Tanya Bunda dengan tetap menjaga nada suaranya.

Pangeran Malik menunduk.

“Ananda tahu kan kalau dengan berbuat usil begitu pada orang lain akan membuat mereka menjadi sedih, marah, kesal, bingung. Itu artinya perbuatan Ananda sudah menyusahkan orang lain.”

“Bukankah Ananda tahu kalau Allah sayang pada orang yang meringankan beban orang lain, bukan sebaliknya?”

“Maafkan ananda….” ucap Pangeran Malik lirih.

“Begini saja. Sebagai hukumannya, Bunda minta Ananda untuk berbuat kebaikan tanpa diketahui siapapun setiap hadir niat ananda untuk berbuat usil. Bisa?”

“Insya Allah, Bunda,” sahut Pangeran Malik.

“Insya Allah dengan Ananda berbuat kebaikan, Allah akan sayang pada Ananda. Selain itu, tentu hatimu akan lebih bahagia daripada ketika kamu berbuat buruk,” sambung Bunda lagi.

Sore harinya, ketika ingin berkuda, mata Pangeran Malik tertuju pada tas selempang kusam berwarna hijau tua yang tersampir di salah satu tiang kandang kuda.

Pemilik tas itu sepertinya anak laki-laki yang sedang sibuk memandikan seekor kuda tak jauh dari tasnya. Pangeran Malik baru kali ini melihat anak itu. Nampaknya ia pekerja baru di kandang. Anak itu tak menyadari kehadiran Pangeran Malik.

Ide usil berputar-putar di kepala Pangeran Malik. Apalagi kandang kuda juga sedang sepi.

“Saya bisa menyembunyikan tas hijau tua itu. Atau memasukkan beberapa genggam pasir ke dalam kantong tas untuk mengotorinya. Bisa juga saya masukkan ular karet untuk mengagetkannya,” gumam hati Pangeran Malik.

Senyum usilnya merekah. Ia pikir, pasti menyenangkan melihat wajah bingung dan kesal anak itu.

Tapi sudut hati Pangeran Malik yang lain membuatnya mengurungkan niat. Nasihat sang Bunda terngiang kembali di telinga Pangeran Malik. Pangeran Malik sudah berjanji untuk berbuat kebaikan setiap hadir niat usilnya.

“Bunda nggak melihat juga….,” gumam hati Pangeran Malik lagi. “…. Tapi kan Allah Maha Melihat!”

“Baiklah. Aku akan mencoba berbuat baik,” putus Pangeran Malik akhirnya.

Aha! Pangeran Malik punya ide. Ia pun bergegas kembali ke istana. Ia mengambil beberapa keping uang emas dari tabungannya di kamar. Kemudian ia berlari ke dapur dan meminta seplastik kue kering dari koki istana.

Pangeran Malik secara diam-diam meletakkan uang emas dan kue ke dalam tas hijau tua itu. Tak lupa ia selipkan kertas bertuliskan HADIAH UNTUKMU di sana.

Pangeran Malik buru-buru bersembunyi tak jauh dari sana. Ia ingin tahu bagaimana reaksi anak pemilik tas itu ketika menemukan hadiahnya.

Beberapa saat kemudian, pekerjaan anak itu selesai. Ia meraih tas hijau tuanya. Anak itu mengernyitkan dahi. Ia menyadari bahwa tasnya sekarang menjadi agak berat.

Dan…. alangkah terperanjatnya ia ketika menemukan kepingan uang emas dan seplastik kue dalam tasnya.

Lantas anak itu melakukan sujud syukur dan mengucapkan hamdallah berkali-kali. Ia menengadahkan tangannya ke langit. Matanya berkaca-kaca.

“Alhamdulillah…. Alhamdulillah…. Engkau jawab permintaan hamba ya Allah. Hanya pada Engkau, hamba mengadukan permasalahan,” ucap anak lelaki itu.

Dari tempat persembunyiannya, Pangeran Malik menyaksikan semuanya. Ucapan anak itu juga terdengar jelas oleh indera dengarnya.

Rasa bahagia menyusupi hati Pangeran Malik saat melihat kebahagiaan orang lain. Bunda Permaisuri benar. Berbuat baik ternyata lebih membahagiakan daripada ketika berhasil mengusili orang lain. Tanpa sadar mata Pangeran Malik pun berkaca-kaca.

Sejak hari itu Pangeran Malik bertekad untuk berhenti berbuat usil. Ia ingin selalu berbuat baik setiap ada kesempatan.

Selain karena ia merasa lebih bahagia, Pangeran Malik juga mau agar Allah semakin sayang padanya karena ia telah berbuat baik.