Melihat Dunia dari Kacamata Anak Kelas 3 SD dalam Buku “Aku Radio Bagi Mamaku”

Judul: Aku Radio Bagi Mamaku
Penulis: Abinaya Ghina Jamela
Penerbit: Gorga Pituluik
Cetakan: Pertama, Oktober 2018
Tebal: 93 hal

Buku ini istimewa. Karena penulisnya adalah Abinaya Ghina Jamela yang masih duduk di kelas 3 SD.

Tapi diksinya jangan ditanya. Nggak kalah dengan penulis dewasa. Menurut saya, untuk sebuah karya sastra yang ditulis seorang anak, buku ini sangat bagus.

Ini sebenarnya adalah buku kedua dari Naya (panggilan akrab penulis). Karya pertamanya adalah Resep Membuat Jagad Raya: Sehimpun Puisi. Sebuah buku kumpulan puisi yang mengantarkan Naya memperoleh tiga penghargaan sekaligus. Salah satunya dari Goodreads Indonesia.

Pertama kali saya tahu buku Aku Radio Bagi Mamaku dari blog Naya sendiri (yang mungkin dibuatkan mamanya). Saya tertarik dengan ulasannya. Maka sejak awal Januari lalu, saya sudah memasukkan buku ini dalam daftar buku yang harus saya baca.

Buku ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tinggal di kota Sonopa. Alinka namanya. Dan buku ini adalah kisah keseharian Alinka dengan cara bertutur menggunakan sudut pandang orang pertama.

Ada sepuluh kisah yang disajikan Naya melalui sosok Alinka di buku ini. Setiap kisah seakan tidak saling berhubungan satu sama lain, meskipun tokoh utamanya tetap sama. Mungkin itu sebabnya buku ini dikategorikan kumpulan cerita pendek, bukan novelet.

Tokoh Alinka ini sepertinya mewakili pikiran dan perasaan Naya sendiri dalam memandang dunia. Naya menyelipkan protes pada perilaku orang dewasa yang menurutnya tidak pantas dalam beberapa paragraf.

Pada kisah Aku Bosan dengan Menu Bekalku, Naya protes pada sosok orang dewasa yang merasa dirinya selalu benar.

“Aku jadi ingat papaku. Papaku selalu merasa benar. Jika sedang bicara tidak bisa dihentikan. Dia bisa marah. Aku pikir karena dia papaku dan karena dia orang dewasa. Anak-anak harus mendengarkan saja semua perkataan orang dewasa. ….”

Naya juga protes pada para pedagang yang berjualan di sepanjang trotoar, sehingga mengganggu pejalan kaki.

Katanya, “Tidak ada trotoar yang tersisa untuk pejalan kaki. Semua sudah digunakan oleh toko-toko untuk kepentingan mereka. Kadang-kadang di tengah trotoar berdiri gerobak penjual rokok. Trotoar bukan lagi milik pejalan kaki. …”

Naya menuangkan ketidaksukaannya pada orang-orang yang buang sampah sembarangan.

Naya menulis, “Tapi warna-warna krayon itu juga mengingatkanku pada sampah-sampah yang berserakan di jalan raya. Sampah-sampah seperti tak pernah hilang di sepanjang jalan. Ada saja yang bertebaran. Aku juga pernah melihat orang yang membuang bungkus makanan dari mobil mereka. Sehingga aku bingung dengan warna apa tangan-tangan mereka yang membuang sampah itu harus aku warnai. Aku takut akan merusak warna krayonku.”

Satu lagi. Ada hal yang unik dalam pola asuh Mama pada Alinka (yang sepertinya Naya) yang dikisahkan dalam buku ini. Yakni pada kisah Benarkah Anak Perempuan Manja?

Dikisahkan Alinka sering diganggu beberapa temannya di sekolah.

“Aku menceritakannya pada Mama. Tapi Mama tidak pernah memarahi teman-temanku. … Mama justru bertanya padaku: “Nah, apa yang sebaiknya kamu lakukan Alinka?”

Ketika teman-teman Alinka tetap mengganggu, Mama akhirnya mendatangi salah satu peganggu itu dan berkata, “Maukah kamu menjaga Alinka buatku?… Ya, sekarang anak-anak suka jahil. Bolehkah aku minta tolong jaga Alinka?” Dan cara begitu rupanya efektif.

Juga pada kisah Hukuman dari Mama. Saat itu tokoh Alinka melakukan kesalahan, sehingga Mama marah padanya.

Cara Mama menghukum Alinka ini keren. Yakni dengan meminta Alinka menulis sesuatu. Tentang apa saja. Hal yang tidak sulit, karena menulis nampaknya adalah hobi Alinka (dan juga Naya pastinya).


Kisah-kisah yang ditulis Naya mengalir manis, polos, namun berani, jujur dan penuh percaya diri. Membacanya membuat saya seolah sedang benar-benar bertatap muka dengan Naya dan mendengarkannya berkisah. Menyenangkan sekali.

Tulisan Naya seakan ingin menyampaikan pada saya (pembaca), bahwa anak adalah seorang manusia juga. Mereka bertumbuh dengan ragam pikiran dan perasaan sendiri. Yang kadang diwarnai determinasi orang dewasa. Tapi kadang bisa jadi terlepas sama sekali. Anak-anak itu sedang berupaya memahami orang dewasa dengan sudut pandangnya yang lugu dan sederhana.