Ulasan Buku: 8 Pilar Sukses Mendidik Anak

Alhamdulillah kemarin saya selesai membaca sebuah buku dalam sekali duduk. Bukunya lumayan tipis sih. Hanya 37 halaman. Ditambah ukuran kertas yang hanya 11×15,5 cm dan tulisan yang dicetak cukup besar. Tapi soal isi, rupanya daging semua.

Buku yang saya baca berjudul 8 Pilar Sukses Mendidik Anak. Buku ini merupakan terjemahan dari Rokai’zu fi tarbiyatil abna’i karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr yang diterbitkan di Al-Nazaer, Saudi Arabia. Kemudian diterbitkan kembali oleh Pustaka Khazanah Fawa’id di bulan Maret 2018.

Buku ini diawali dengan bab pendahuluan. Di bab ini penulis menekankan tentang kewajiban dan amanah orangtua untuk memperhatikan anak-anaknya. Karena hal itu merupakan perintah dari Allah.

Penulis menyampaikan bahwa anak sendiri sebenarnya merupakan nikmat dari Allah. Allah berfirman dalam QS. Asy-Syura 49 bahwa “… Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Namun nikmat memiliki anak ini sebenarnya merupakan ujian dan cobaan untuk orangtua. Jika orangtua bisa menunaikan amanahnya untuk mendidik anak-anak dengan baik, maka Allah akan memberi pahala yang besar di sisiNya.

Mengenai hal ini, Allah dengan terang dan jelas memerintahkan manusia untuk memelihara dirinya dan keluarganya dari api neraka. Sebagaimana firmanNya dalam QS. At-Tahrim 6.

Ali bin Abi Thalib menjelaskan mengenai makna ayat tersebut terkait amanah orangtua terhadap anak-anaknya. Yakni: “Ajarkan mereka ilmu dan didiklah mereka.”

Sebagian ahli ilmu mengatakan, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada seorang ayah tentang anaknya sebelum Allah bertanya kepada si anak tentang ayahnya. Sebagaimana seorang ayah punya hak atas anaknya, demikian pula seorang anak punya hak atas ayahnya.” (Dalam kitab Tuhfatu al-Maulud bi Ahkami al-Maulud karya Ibnu Qayyim).

Anak memang diperintahkan Allah untuk berbakti pada orangtuanya. Sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Al-Ankabut 8. Sebaliknya Allah juga mewasiatkan pada orangtua agar mendidik anak-anaknya, dalam QS. An-Nisa 11: “Allah mewasiatkan bagimu tentang anak-anakmu.”

Karena pentingnya amanah dalam mendidik anak inilah yang mendorong Syaikh Abdurrazzaq untuk menulis buku 8 Pilar Sukses Mendidik Anak. Berikut intisari yang saya himpun dari buku tersebut.

Memilih pasangan yang shalih/ shalihah. Karena pasangan lah yang menjadi patner dalam mendidik anak.

Mendoakan anak dengan kebaikan. Ingat bahwa diantara kebaikan Allah adalah menjadikan doa orangtua dikabulkan untuk anak-anaknya. Maka janganlah gegabah dan buru-buru mendoakan keburukan untuk anak. Terutama di kala marah.

Memilih nama yang baik. Yang dengan nama tersebut dapat mengingatkan anak dengan ibadah dan akhlak terpuji.

Berbuat adil terhadap setiap anak. Orangtua yang berusaha berbuat adil pada anak-anaknya akan menjadi sebab cinta, kasih sayang dan bakti mereka padanya. Sebaliknya, berbuat tidak adil dapat memicu kebencian, permusuhan dan sifat durhaka.

Bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang. Hal ini dimulai sejak anak-anak masih kecil. Sehingga terjalin kedekatan antara anak dan orangtua yang kelak akan memudahkan orangtua untuk mengarahkan anak pada kebaikan.

Memberi nasihat dan arahan. Diawali dengan mengajarkan aqidah, kewajiban-kewajiban Islam dan rukunnya, serta perintah syariat. Perhatikan bagaimana urutan nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya yang diabadikan Allah dalam QS. Lukman 13-19.

Mengarahkan anak ke lingkaran teman yang baik. Karena teman memberikan pengaruh yang besar bagi seseorang. Ingat pula bahwa di zaman sekarang “teman” dapat hadir dalam rupa tontonan tv, situs internet, medsos, dst.

Menjadi teladan yang baik (qudwah) bagi anak-anaknya. Jangan sampai perkataan berbeda dengan perbuatan. Padahal qudwah dengan perbuatan itu lebih mengena daripada perkataan.

Di akhir bukunya, Syaikh Abdurrazzaq menegaskan bahwa 8 pilar tersebut merupakan bagian dari upaya. Selanjutnya, hal yang terpenting bagi orangtua adalah menyerahkan segala urusannya kepada Allah semata, termasuk dalam menjaga dan memperbaiki anak-anaknya.

“Aku tidak mengira ada seseorang yang bertakwa kepada Allah dalam (menjaga) anak-anaknya, dan ia menempuh jalan syariah dalam mengarahkan mereka, melainkan Allah akan memberikan petunjuk kepada anak-anaknya.” (Syaikh Ibnu Ustaimin)

Jebakan Perasaan! Mengubah Mindset tentang Makanan

Sejak beberapa bulan yang lalu saya diserang oleh penyakit kulit. Berupa bercak putih kemerahan yang menebal dan gatal. Di beberapa tempat. Antara lain di lutut, siku, jari kaki dan di atas mata kaki.

Sebelum memutuskan untuk ke dokter, saya sudah mencoba berobat mandiri. Mulai dari menggunakan salep sampai minum tablet. Saya juga membatasi diri dari mengkonsumsi ayam broiler dan telurnya. Karena saya curiga penyebabnya adalah alergi makanan.

📷 pixabay.com

Dugaan saya tepat. Ini memang 100% alergi. Begitu yang dikatakan oleh Pak Dokter. Berikutnya dengan sigap asisten dokter mengeluarkan secarik kertas.

Isinya? Daftar makanan yang tidak boleh saya makan untuk sementara. Hanya selama masa pengobatan.

Setelah nanti sembuh saya harus mencoba makanan itu satu-persatu. Seperti bayi yang baru belajar makan. Tes alergi dulu.

Makanan yang boleh dimakan tentu saja ada. Seperti nasi, tahu, tempe, ikan haruan (gabus), ikan papuyu (betok), daging sapi, kecap, sayur-mayur dan buah-buahan.

📷 pixabay.com

Ya, semua ragam makanan sehat yang tidak berpotensi memicu alergi boleh saya makan. Terbatas memang. Tapi harus saya ikuti jika saya ingin sembuh. Insya Allah.

Awalnya saya pikir untuk menjalani hari tanpa beragam makanan yang sebagian besar favorit saya itu berat. Bayangkan! Saya nggak boleh makan kacang-kacangan, ragam telur 🍳, ragam daging 🍗, ragam ikan (termasuk ikan asin 😑), udang 🍤, cokelat 🍫, snack 🍪, mie instan 🍝, es krim 🍦, terasi, makanan berpenyedap rasa, makanan kaleng, dll. Terus terang, saya merasa cukup horor karenanya.

Alhamdulillah itu hanya jebakan perasaan saja. Ketika dijalani, rupanya tak seberat itu kok. Ragam makanan yang boleh saya makan lebih dari cukup untuk menyumbangkan asupan energi harian.

Saya pun berusaha mengubah mindset tentang makanan ini. Saya akui, biasanya untuk urusan makanan saya berpanduan dengan apa yang nikmat di lidah. Dengan kata lain, mencari yang sesuai selera. Sekarang, saya coba hapus pemikiran begitu.

Saya menegaskan berulang kali ke diri saya, bahwa yang terpenting dari makanan bukan untuk memanjakan lidah. Tapi agar tubuh menjadi sehat dan bugar. Khusus untuk anak-anak ditambah dengan makanan yang menunjang tumbuh kembang optimal.

Dan alhamdulillah mindset begitu berhasil membuat selera makan saya tak berubah. Meskipun hanya dengan sajian yang sederhana saya tetap menikmatinya.

Bismillah. Semoga ini bisa sekalian menjadi awal untuk saya memulai pola hidup sehat dengan gizi seimbang.

📷 pixabay.com

Cerpen Anak: Pangeran Malik yang Suka Usil

📷 pixabay.com

Akhir-akhir ini Pangeran Malik suka sekali berbuat usil. Ada-ada saja tingkahnya yang membuat orang lain menjadi kesal.

Pangeran Malik menyembunyikan boneka milik adiknya, Putri Fatimah. Ia juga mengganti sirup gula dengan air garam saat pelayan membuatkan jus untuk kakaknya, Putri Sarah. Pangeran Malik pula pelakunya yang mengotori kolam ikan dengan benih siap semai milik tukang kebun istana.

Dan tentu saja tak hanya itu yang ia lakukan. Masih ada beberapa lagi deretan keusilannya. Ada yang tertangkap basah, ada yang tidak. Tapi jika ada kekacauan, semuanya tahu kalau itu pasti ulah Pangeran Malik.

Pangeran Malik sendiri menikmati keusilannya. Ia merasa amat lucu ketika melihat orang lain kebingungan dan kesal sendiri.

Bunda Permaisuri telah mendengar laporan tentang ulah buruk putranya. Maka Bunda pun memanggil Pangeran Malik.

“Saya hanya bercanda, Bunda…. Itu hanya untuk hiburan….” Pangeran Malik berkilah.

Bunda Permaisuri menghela nafas. Beliau berpikir bagaimana caranya agar Pangeran Malik mengerti tanpa merasa dihakimi.

“Ananda, apakah menurutmu perbuatan-perbuatanmu itu akan membuatmu disayang Allah?” Tanya Bunda dengan tetap menjaga nada suaranya.

Pangeran Malik menunduk.

“Ananda tahu kan kalau dengan berbuat usil begitu pada orang lain akan membuat mereka menjadi sedih, marah, kesal, bingung. Itu artinya perbuatan Ananda sudah menyusahkan orang lain.”

“Bukankah Ananda tahu kalau Allah sayang pada orang yang meringankan beban orang lain, bukan sebaliknya?”

“Maafkan ananda….” ucap Pangeran Malik lirih.

“Begini saja. Sebagai hukumannya, Bunda minta Ananda untuk berbuat kebaikan tanpa diketahui siapapun setiap hadir niat ananda untuk berbuat usil. Bisa?”

“Insya Allah, Bunda,” sahut Pangeran Malik.

“Insya Allah dengan Ananda berbuat kebaikan, Allah akan sayang pada Ananda. Selain itu, tentu hatimu akan lebih bahagia daripada ketika kamu berbuat buruk,” sambung Bunda lagi.

Sore harinya, ketika ingin berkuda, mata Pangeran Malik tertuju pada tas selempang kusam berwarna hijau tua yang tersampir di salah satu tiang kandang kuda.

Pemilik tas itu sepertinya anak laki-laki yang sedang sibuk memandikan seekor kuda tak jauh dari tasnya. Pangeran Malik baru kali ini melihat anak itu. Nampaknya ia pekerja baru di kandang. Anak itu tak menyadari kehadiran Pangeran Malik.

Ide usil berputar-putar di kepala Pangeran Malik. Apalagi kandang kuda juga sedang sepi.

“Saya bisa menyembunyikan tas hijau tua itu. Atau memasukkan beberapa genggam pasir ke dalam kantong tas untuk mengotorinya. Bisa juga saya masukkan ular karet untuk mengagetkannya,” gumam hati Pangeran Malik.

Senyum usilnya merekah. Ia pikir, pasti menyenangkan melihat wajah bingung dan kesal anak itu.

Tapi sudut hati Pangeran Malik yang lain membuatnya mengurungkan niat. Nasihat sang Bunda terngiang kembali di telinga Pangeran Malik. Pangeran Malik sudah berjanji untuk berbuat kebaikan setiap hadir niat usilnya.

“Bunda nggak melihat juga….,” gumam hati Pangeran Malik lagi. “…. Tapi kan Allah Maha Melihat!”

“Baiklah. Aku akan mencoba berbuat baik,” putus Pangeran Malik akhirnya.

Aha! Pangeran Malik punya ide. Ia pun bergegas kembali ke istana. Ia mengambil beberapa keping uang emas dari tabungannya di kamar. Kemudian ia berlari ke dapur dan meminta seplastik kue kering dari koki istana.

Pangeran Malik secara diam-diam meletakkan uang emas dan kue ke dalam tas hijau tua itu. Tak lupa ia selipkan kertas bertuliskan HADIAH UNTUKMU di sana.

Pangeran Malik buru-buru bersembunyi tak jauh dari sana. Ia ingin tahu bagaimana reaksi anak pemilik tas itu ketika menemukan hadiahnya.

Beberapa saat kemudian, pekerjaan anak itu selesai. Ia meraih tas hijau tuanya. Anak itu mengernyitkan dahi. Ia menyadari bahwa tasnya sekarang menjadi agak berat.

Dan…. alangkah terperanjatnya ia ketika menemukan kepingan uang emas dan seplastik kue dalam tasnya.

Lantas anak itu melakukan sujud syukur dan mengucapkan hamdallah berkali-kali. Ia menengadahkan tangannya ke langit. Matanya berkaca-kaca.

“Alhamdulillah…. Alhamdulillah…. Engkau jawab permintaan hamba ya Allah. Hanya pada Engkau, hamba mengadukan permasalahan,” ucap anak lelaki itu.

Dari tempat persembunyiannya, Pangeran Malik menyaksikan semuanya. Ucapan anak itu juga terdengar jelas oleh indera dengarnya.

Rasa bahagia menyusupi hati Pangeran Malik saat melihat kebahagiaan orang lain. Bunda Permaisuri benar. Berbuat baik ternyata lebih membahagiakan daripada ketika berhasil mengusili orang lain. Tanpa sadar mata Pangeran Malik pun berkaca-kaca.

Sejak hari itu Pangeran Malik bertekad untuk berhenti berbuat usil. Ia ingin selalu berbuat baik setiap ada kesempatan.

Selain karena ia merasa lebih bahagia, Pangeran Malik juga mau agar Allah semakin sayang padanya karena ia telah berbuat baik.

Melihat Dunia dari Kacamata Anak Kelas 3 SD dalam Buku “Aku Radio Bagi Mamaku”

Judul: Aku Radio Bagi Mamaku
Penulis: Abinaya Ghina Jamela
Penerbit: Gorga Pituluik
Cetakan: Pertama, Oktober 2018
Tebal: 93 hal

Buku ini istimewa. Karena penulisnya adalah Abinaya Ghina Jamela yang masih duduk di kelas 3 SD.

Tapi diksinya jangan ditanya. Nggak kalah dengan penulis dewasa. Menurut saya, untuk sebuah karya sastra yang ditulis seorang anak, buku ini sangat bagus.

Ini sebenarnya adalah buku kedua dari Naya (panggilan akrab penulis). Karya pertamanya adalah Resep Membuat Jagad Raya: Sehimpun Puisi. Sebuah buku kumpulan puisi yang mengantarkan Naya memperoleh tiga penghargaan sekaligus. Salah satunya dari Goodreads Indonesia.

Pertama kali saya tahu buku Aku Radio Bagi Mamaku dari blog Naya sendiri (yang mungkin dibuatkan mamanya). Saya tertarik dengan ulasannya. Maka sejak awal Januari lalu, saya sudah memasukkan buku ini dalam daftar buku yang harus saya baca.

Buku ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan yang tinggal di kota Sonopa. Alinka namanya. Dan buku ini adalah kisah keseharian Alinka dengan cara bertutur menggunakan sudut pandang orang pertama.

Ada sepuluh kisah yang disajikan Naya melalui sosok Alinka di buku ini. Setiap kisah seakan tidak saling berhubungan satu sama lain, meskipun tokoh utamanya tetap sama. Mungkin itu sebabnya buku ini dikategorikan kumpulan cerita pendek, bukan novelet.

Tokoh Alinka ini sepertinya mewakili pikiran dan perasaan Naya sendiri dalam memandang dunia. Naya menyelipkan protes pada perilaku orang dewasa yang menurutnya tidak pantas dalam beberapa paragraf.

Pada kisah Aku Bosan dengan Menu Bekalku, Naya protes pada sosok orang dewasa yang merasa dirinya selalu benar.

“Aku jadi ingat papaku. Papaku selalu merasa benar. Jika sedang bicara tidak bisa dihentikan. Dia bisa marah. Aku pikir karena dia papaku dan karena dia orang dewasa. Anak-anak harus mendengarkan saja semua perkataan orang dewasa. ….”

Naya juga protes pada para pedagang yang berjualan di sepanjang trotoar, sehingga mengganggu pejalan kaki.

Katanya, “Tidak ada trotoar yang tersisa untuk pejalan kaki. Semua sudah digunakan oleh toko-toko untuk kepentingan mereka. Kadang-kadang di tengah trotoar berdiri gerobak penjual rokok. Trotoar bukan lagi milik pejalan kaki. …”

Naya menuangkan ketidaksukaannya pada orang-orang yang buang sampah sembarangan.

Naya menulis, “Tapi warna-warna krayon itu juga mengingatkanku pada sampah-sampah yang berserakan di jalan raya. Sampah-sampah seperti tak pernah hilang di sepanjang jalan. Ada saja yang bertebaran. Aku juga pernah melihat orang yang membuang bungkus makanan dari mobil mereka. Sehingga aku bingung dengan warna apa tangan-tangan mereka yang membuang sampah itu harus aku warnai. Aku takut akan merusak warna krayonku.”

Satu lagi. Ada hal yang unik dalam pola asuh Mama pada Alinka (yang sepertinya Naya) yang dikisahkan dalam buku ini. Yakni pada kisah Benarkah Anak Perempuan Manja?

Dikisahkan Alinka sering diganggu beberapa temannya di sekolah.

“Aku menceritakannya pada Mama. Tapi Mama tidak pernah memarahi teman-temanku. … Mama justru bertanya padaku: “Nah, apa yang sebaiknya kamu lakukan Alinka?”

Ketika teman-teman Alinka tetap mengganggu, Mama akhirnya mendatangi salah satu peganggu itu dan berkata, “Maukah kamu menjaga Alinka buatku?… Ya, sekarang anak-anak suka jahil. Bolehkah aku minta tolong jaga Alinka?” Dan cara begitu rupanya efektif.

Juga pada kisah Hukuman dari Mama. Saat itu tokoh Alinka melakukan kesalahan, sehingga Mama marah padanya.

Cara Mama menghukum Alinka ini keren. Yakni dengan meminta Alinka menulis sesuatu. Tentang apa saja. Hal yang tidak sulit, karena menulis nampaknya adalah hobi Alinka (dan juga Naya pastinya).


Kisah-kisah yang ditulis Naya mengalir manis, polos, namun berani, jujur dan penuh percaya diri. Membacanya membuat saya seolah sedang benar-benar bertatap muka dengan Naya dan mendengarkannya berkisah. Menyenangkan sekali.

Tulisan Naya seakan ingin menyampaikan pada saya (pembaca), bahwa anak adalah seorang manusia juga. Mereka bertumbuh dengan ragam pikiran dan perasaan sendiri. Yang kadang diwarnai determinasi orang dewasa. Tapi kadang bisa jadi terlepas sama sekali. Anak-anak itu sedang berupaya memahami orang dewasa dengan sudut pandangnya yang lugu dan sederhana.

Ragam Aktivitas Sederhana Tanpa Gawai di Kala Santai

Tidak bisa dipungkiri, kalau saat ini, gawai seakan tak bisa terpisahkan dari aktivitas keseharian. Mungkin termasuk bagi kamu (dan juga saya) yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Gawai sering kali menjadi pilihan utama untuk menemani waktu di kala santai. Tapi sebenarnya ada lho beberapa aktivitas sederhana namun tetap menyenangkan yang bisa dilakukan tanpa gawai. Berikut diantaranya.

Membaca buku

Gawai memang menyediakan ebook. Mulai dari gratis sampai berbayar. Perpustakaan digital pun bertebaran. Tapi, menurut saya, buku cetak tetap lebih menawan.

Kamu bisa menyentuh buku secara fisik, membaui aroma kertasnya dan tentu membacanya dengan nyaman tanpa khawatir terpapar radiasi.

Bikin kue

Ini pilihan aktivitas yang mungkin tak hanya menyenangkan buatmu, tapi juga buat seluruh anggota keluarga. Karena kue buatanmu bisa dinikmati bersama.

Menulis dengan kertas dan pena

Sudah berapa lama kamu nggak pegang kertas dan pena? Ayo ngaku! Setelah ada aplikasi note di ponsel, sepertinya kertas dan pena mulai ditinggalkan.

Padahal menulis dengan kertas dan pena bisa menjadi pilihan menarik untuk mengisi waktu santai lho. Kamu bisa menulis apa saja di atas selembar kertas. Atau kamu juga bisa menggambar sesuka hati di kertas.

Bermain bersama anak-anak

Kalau kamu sudah memiliki anak, sebaiknya lepaskan saja gawaimu. Bergabunglah dengan anak-anakmu. Larutlah dalam keceriaan mereka.

Kamu bisa ikut asyik bermain bersama mereka, membacakan buku atau hanya sekadar mengobrol dan mendengarkan celotehan mereka. Percayalah. Itu jauh lebih menyenangkan.

Berkunjung ke rumah kerabat atau sahabat

Kamu bisa mengobrol seru dengan kerabat atau sahabatmu. Insya Allah mereka akan senang ketika dikunjungi. Tapi pastikan mereka ada di rumah dan sedang tidak sibuk ya sebelum berkunjung.

Jalan-jalan sehat

Aktivitas ini bisa kamu lakukan saat pagi atau sore hari. Kamu bisa menikmati waktu santai sekaligus bermandikan sinar matahari yang kaya vitamin D. Asyik dan menyehatkan.

Ngobrol dengan tetangga

Kelihatannya sepele ya. Tapi mengobrol dengan tetangga juga asyik lho. Kamu bisa menjadi lebih akrab dengan mereka. Tapi tentu harus ingat waktu dan jangan ngegosip ya.

Menyulam, berkebun atau apapun yang menjadi hobimu

Kalau kamu suka menyulam, maka ambillah kain, benang dan jarummu. Kalau kamu senang berkebun, kamu bisa mulai menyemai bibit, menyiapkan tanah subur, dll. Lakukan saja hobimu dan nikmati.

Walimah yang Sederhana, Namun Istimewa

Pekan lalu, aku menghadiri walimah (resepsi) pernikahan seorang sahabat (tepatnya seorang kakak senior). Walimah yang kuhadiri ini beda dengan walimah pada umumnya.

Walimah digelar di halaman rumah orangtua beliau yang memang cukup luas. Nggak ada ingar-bingar musik yang membuat jantung serasa mau copot di sana. Tamu laki-laki dan perempuan pun terpisah.

Pengantin juga nggak dipajang bersisian. Aku hanya bersua pengantin wanita bergaun putih syar’i dengan riasan minimalis. Beliau berdiri tersembunyi dari tatapan orang-orang yang tak perlu menatap (baca: kaum adam yang bukan mahram, kecuali suami dong).

Walimah beliau meninggalkan kesan yang sederhana, namun tetap istimewa. Walimah impianku sebenarnya.

Tapi aku nggak mau laaah walimah lagi demi sebuah impian 😅. Cuman ke depannya aku ingin konsep walimah seperti itu digelar untuk para bocahku kelak. Aamiin ya Allah.


Agar tulisan ini menjadi agak panjang, izinkan aku mengutip sedikit isi dari buku saku Indahnya Pernikahan Islami. Buku ini merupakan souvenir walimah pernikahan tersebut.

Wajib bagi yang diundang untuk menghadiri walimatul ‘urs apabila terpenuhi syarat-syarat berikut.

  • Walimah tersebut adalah walimah yang pertama jika walimahnya dilakukan berulang kali. Dan tidak wajib datang untuk walimah yang selanjutnya berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Walimah pertama adalah hak, walimah kedua adalag baik, dan walimah yang ketiga adalah riya’ dan sum’ah.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)
  • Yang mengundang seorang muslim.
  • Yang mengundang bukan termasuk ahli maksiat yang terang-terangan melakukan kemaksiatannya, sehingga mereka itu wajib dijauhi.
  • Undangan tertuju kepadanya secara khusus, bukan umum.
  • Tidak ada kemungkaran dalam walimah tersebut, seperti adanya khamr (minuman keras), musik, nyanyian dan biduan, seperti yang banyak terjadi dalam acara walimah sekarang.

Teriring ucapan untuk kedua mempelai:

بَارَكَ اللّهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرِ

Sunshine Blogger Award (2)

Waaaah, terimakasih buat Mbak Ai yang sudah memilih blogku sebagai salah satu nominasi Sunshine Blogger Award. Ini merupakan award kedua yang aku terima. Padahal usia blogku baru seumur jagung 😅.

Buat kalian para pembaca, mari berkunjung ke blognya Mbak Ai, It’s not a Destination, It’s a Journey. Jika kamu suka baca buku dan traveling, aku sarankan untuk follow.

Sebelum menjawab 11 pertanyaan dari Mbak Ai, berikut aku tuliskan peraturan dari Sunshine Blogger Award ini:

1. Ucapkan terimakasih pada blogger yang telah memilihmu dan sertakan link blognya pada tulisanmu.

2. Sampaikan peraturan dan sertakan pula logo award.

3. Jawab 11 pertanyaan yang diberikan untukmu.

4. Pilih 11 blogger untuk melanjutkan award dan beri mereka 11 pertanyaan.

Pertanyaan dari Mbak Ai adalah sbb.

1. Bacaan atau majalah apa yang sangat memorable ketika masih kecil?

Majalah BOBO. Kayaknya ini majalah legendaris deh.

2. Apa quote favoritmu yang sangat menginspirasimu untuk mewujudkan impian?

Kebaikan yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri.

Qoute ini diucapkan seorang sahabat saat masa KKN. Sudah bertahun-tahun, tapi tetap qoute ini jadi inspirasi untuk terus berbuat kebaikan demi satu impian. Yakni meraih ridha Allah.

3. Apa motivasi terbesarmu menulis di blog?

Motivasi terbesarku menulis di blog adalah berbagi apa yang aku pikirkan pada orang lain. Selain itu, aku ngeblog juga sebagai sarana asah otak dan belajar nulis.

4. Apa manfaat yang dirasakan setelah ngeblog?

Banyak sih. Salah satunya, aku merasa nyaman dan lega. Semacam ada kebahagiaan tersendiri.

5. Saat membaca, punya kebiasaan khusus sambil mengemil, mendengarkan musik, atau fokus baca saja?

Aku biasanya fokus baca saja.

6. Film apa yang sudah ditonton lebih dari tiga kali?

Sudah lama sih nggak nonton film. Tapi dulu aku suka sekali menonton film kartun UP! dan juga film India yang dibintangi Aamir Khan, 3 Idiots. Sepertinya aku sudah menonton dua film itu lebih dari tiga kali.

7. Jika punya waktu luang, pilih blog walking atau lihat Instagram?

Blog walking.

8. Jika punya budget uang jajan, pilih beli buku atau beli baju, atau barang lainnya?

Tentu pilih buku 😉.

9. Saat makan, lebih suka fokus makan atau sambil pegang gadget?

Aku lebih suka fokus makan.

10. Sebutkan satu judul buku apa yang akan kamu rekomendasikan untuk dibaca oleh teman-temanmu?

Buat teman-teman perempuanku yang sudah jadi seorang Ibu, aku rekomendasikan buku Don’t Be Angry, Mom. Itu buku terbaru yang selesai aku baca di akhir maret lalu.

11. Hal menyenangkan apa yang kamu dapatkan saat blog walking?

Dapat tambahan ilmu dan wawasan, juga informasi dan pengalaman 😄.

Nah, itu dia 11 pertanyaan dari Mbak Ai beserta jawabanku. Berikutnya, aku memilih untuk mencukupkan Sunshine Blogger Award kali ini hanya sampai pada diriku saja. Jadi aku tidak akan memilih siapapun dan juga tidak memberikan pertanyaan apapun.

Tapi tentu aku berterimakasih kepada dia si pencetus ide awal Sunshine Blogger Award. Karena hal semacam ini terus terang memberikan suntikan semangat dan dukungan untuk terus ngeblog.

Dan buat kalian yang telah meluangkan waktu membaca tulisan ini, aku juga mengucapkan terimakasih 💐.