Kemarin

15 Agustus. Itu kemarin. Dan aku melewatkannya.

Bayangan masa kecil menari-nari di dalam batok kepalaku. Aku yang berjalan setiap pagi ke sekolah. Aku yang bermain lompat tali. Aku yang mengoleksi mainan kertas bongkar pasang. Aku yang punya hobi membaca buku dan setiap bulan selalu minta dibeliin majalah Bobo. Ah, rasanya baru kemarin.

Wajah kawan-kawan lamaku pun bermunculan. Begitu polos, fresh dan baru mengenal dunia. Berlompatan di usia belasan. Dengan aneka warna. Canda tawa, keriangan yang bising, amarah, juga luka yang konyol. Ah, rasanya baru kemarin.

Masa-masa ketika jauh dari orang tua. Memulai dunia berbeda dari yang orang lain pilih. Berusaha menggunakan kerudung hingga menutup dada. Menyelami makna ikhlas dalam setiap aktivitas organisasi. Bukan tanpa berpeluh. Tapi bersama kawan-kawan semua terasa ringan. Ah, rasanya baru kemarin.

Entah ingatanku kah yang sedemikian kuat sehingga semua terasa baru kemarin? Atau memang usia dan waktu yang begitu cepat berlari?

Ya. Tiba-tiba saja aku sudah memasuki usia “cantik”. Menjadi ibu yang menanti kelahiran anak ketiga. Sementara orang tuaku menua dan mulai sakit-sakitan. Kawan-kawanku? Mereka telah punya kehidupan masing-masing tanpa ada aku lagi di dalamnya.

Begitu cepat. Hingga aku tersadar bahwa aku sebenarnya belum mempersiapkan apa-apa untuk menyongsong babak baru dalam duniaku. Kematian. Sementara detik demi detik terus berlalu. Dan semua yang pernah terjadi rasanya baru kemarin.

Semoga Allah memberiku petunjuk. Aamiin ya Allah.

Review Buku | #BebasTakut Hamil dan Melahirkan

Judul buku: #BebasTakut Hamil dan Melahirkan
Penulis: Yesie Aprillia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: kesebelas, Agustus 2019
Tebal: 213 hlm

“Proses persalinan adalah proses yang penuh dengan kejutan. Kita tidak bisa selalu memastikan proses persalinan berjalan lancar dan nyaman karena kemungkinan apa pun bisa terjadi selama proses persalinan. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Jadi, Anda harus sangat terbuka dan mampu menyiapkan diri terhadap berbagai kemungkinan.” (Hlm. x)

Ada yang sama kayak aku nggak? Sudah pernah melahirkan, tapi tetap ngerasa belum siap untuk menghadapinya lagi? Jika ya, kita sama.

Itulah yang akhirnya mendorongku untuk membeli buku yang ditulis oleh Yesie Aprillia. Beliau ini seorang bidan, dosen dan pelatih gentle birth di Indonesia. Akun IGnya @bidankita punya ribuan follower yang rata-rata adalah para ibu. Termasuk aku.

Dari @bidankita aku tahu kalau bidan Yesie juga menulis buku. Salah satunya buku ini yang diklaim penerbitnya sebagai mega-bestseller parenting book.

Isinya cukup komplit dalam membahas seluk-beluk kehamilan dan persalinan. Mulai dari pengetahuan dasar tentang apa sih itu gentle birth, nutrisi yang diperlukan ibu dan janin, gerakan atau olahraga yang membantu persalinan, persiapan jelang persalinan, teknik pernapasan untuk mengurangi rasa sakit saat kontraksi, pilihan posisi melahirkan, tahap persalinan, serta info-info lainnya.

Buat aku pribadi sih, buku ini cukup membantu untuk mempersiapkan diri. Apalagi bidan Yesie menyelipkan kata-kata motivasi juga bimbingan menyusun birth plan dan afirmasi positif di buku ini. Bikin semacam lebih semangat dan percaya diri. Biidznillah.

Tapi nggak semua aku ikutin sih. Aku skip meditasi beserta gerakannya dalam persiapan persalinanku. Toh, untuk relaksasi nggak harus ngikutin step by step meditasi kan. Senam ibu hamil juga nggak harus gerakan ala meditasi dong. Ada banyak cara maupun gerakan lain tanpa embel-embel meditasi yang bisa diintip di google maupun youtube. Misal senam dengan birthing ball.

Alasannya? Bisa baca di sini ya. Aku nggak berkapasitas menjelaskan detail.

Selanjutnya nih, salah satu pengetahuan yang penting banget menurutku itu adalah fase persalinan. Di buku ini penuturannya komplit banget. Dilengkapi pula dengan apa sih yang harus dilakukan ibu saat berhadapan dengan situasi tersebut. Jadi diharapkan ibu udah benar-benar siap.

“Tidak perlu terburu-buru pergi ke rumah sakit karena ini justru akan membuat Anda merasa stres dan panik.” (Hlm. 151)

Benar banget sih ini. Suasana ternyaman adalah rumah sendiri. Ketika di rumah, ibu bisa bergerak bebas dan nggak terintimidasi. Lalu kapan ibu harus ke layanan kesehatan? Ketika ibu sudah minimal merasakan 5-1-1 dan sensasi kontraksi berada di area bikini line.

Untuk pilihan posisi melahirkan kayaknya aku bakal tetap mengikuti prosedur umum dari klinik bersalin. Yakni posisi telentang alias lithotomy. Walaupun sebenarnya diterangkan dalam buku ini kalau nggak ada keuntungan dalam posisi lithotomy, selain kemudahan akses tenaga kesehatan memberi bantuan. Tapi untuk mengeksplorasi posisi lainnya terus terang aku masih belum berani. Hehehe…

Buku ini ditutup dengan birth story dari baby Shanum. Kisah persalinan anak pertama yang berjalan cepat dan lancar. Biidznillah.

“Anda mungkin tidak punya banyak pilihan terhadap apa yang akan Anda terima dan alami. Namun, Anda punya banyak pilihan untuk memberdayakan diri, menyiasati, dan mengupayakan yang terbaik.” (Yesie Aprillia)

Pindah (Lagi)

Picture by pexels

“Ma, tadi main sama Amel asyik banget,” ucap si Sulung. Matanya berbinar.

“Tapi…. kayaknya besok terakhir deh kalian main sama Amel. Soalnya hari rabu kita udah mau pindah ke toko.”

Sulungku diam sesaat.

“Ma, nanti di Surga masih bisa ketemu dan main-main lagi kah?”

“Iya. Insya Allah.”

Aku jadi baper deh kalau ingat obrolan kemarin sama Sulung. Dia lagi senang-senangnya main sama anak-anak tetangga. Diam-diam aku perhatikan dari balik jendela. Kayaknya dia riang dan lepas banget. Mungkin karena udah kelamaan #dirumahaja. Hehehe….

Tapi biarlah dia beradaptasi dengan segala perubahan dalam hidup. Biarlah dia belajar bahwa di dunia ini nggak ada kebahagiaan yang abadi. Ada pertemuan menyenangkan. Ada pula saatnya perpisahan. Kebahagiaan yang tak putus kelak hanya akan kita temui di Surga.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diridhoi Allah ya Nak. Aamiin ya Allah.

Perilaku Anak adalah Cerminan dari Perilaku Orang Tua

Picture by pexels

Ayah bunda bisa buktikan sendiri. Perilaku anak adalah cerminan dari perilaku orang tua.   Anak bisa meniru hal apa pun dari orang tua Ayah bunda yang segera mengerjakan shalat lima waktu pada awal waktu, anak pasti akan tepat waktu pula. Seorang ayah yang mengajak putranya untuk shalat berjamaah dan berdiri bersama anak dalam shaf, pasti…

Perilaku Anak adalah Cerminan dari Perilaku Orang Tua

Melahirkan

Melahirkan lancar, lembut dan nyaman menjadi target berikutnya dalam hidupku. Aku mulai memikirkannya setelah memasuki masa trimester dua. Ketika gangguan mual, muntah dan pusing di bulan sebelumnya perlahan berkurang.

Aku ingat, ada kawan semasa kuliahku yang pernah cerita pengalaman melahirkan keduanya yang biidznillah benar-benar nyaman di salah satu akun medsosnya. Jadilah ia kujadikan salah satu referensi. Aku hubungi ia.

Kawanku ini merespon positif dan langsung memberikan beberapa saran. Katanya, hal yang harus pertama kali aku lakukan adalah mengubah mindset tentang melahirkan. Hapus semua kenangan buruk. Ganti dengan sugesti positif. Karena mengelola pikiran ini merupakan separuh lebih dari usaha melahirkan nyaman. Sisanya dengan olahraga dan jalan kaki aja.

Katanya lagi, salah satu caranya dengan menonton video melahirkan yang lembut. Yang tanpa teriak-teriak. Bisa dimulai dengan menonton video mamalia, ex. gajah, melahirkan.

Dua persalinanku sebelumnya alhamdulillah lancar. Tapi aku akui, cukup bikin ngilu kalau diingat-ingat.

Persalinan pertama butuh waktu sekitar 12 jam sejak awal pembukaan hingga lengkap. Selama itu aku di klinik bersalin ditemani suami juga ortu. Bahkan adik dan sahabatku juga ikutan nengok. Perjuangan dramatis itu pun dilengkapi dengan episiotomi. Krek. Krek. Krek.

Persalinan kedua lebih lancar sih dari yang pertama. Aku nggak begitu lama di klinik bersalin. Sejak mulai kontraksi aku nikmatin di rumah aja. Sampai akhirnya kontraksi makin intens baru boyongan ke bidan. Seingatku waktu itu sakit sekali. Lebih sakit dari sebelumnya. Tapi aku hanya butuh sekitar 2x ngeden hingga akhirnya putriku lahir. Sayangnya, area perineum tetap harus dijahit.

Nah, kedua kenangan itu membentuk mindset alam bawah sadarku. Belum lagi kisah-kisah perjuangan melahirkan ibu-ibu lain yang turut mewarnai. Itu yang ingin aku taklukan. Aku ingin melahirkan lancar, lembut dan nyaman. Dan tentu saja tanpa robekan. Ini nih yang paling ngilu.

Alhamdulillah kawanku dengan senang hati menuliskan langkah-langkah yang ditempuhnya agar melahirkan dengan nyaman. Jazaakillahu khayran sayyy. Aku copas di sini ya. Sbb.

  1. Release/ berdamai dengan birth trauma (hapus kenangan-kenangan buruk, isi dengan pengetahuan baru)
  2. Selalu afirmasi positif dan komunikasi intens dengan janin.
  3. Maternal position dalam kebiasaan sehari-hari (duduk stimpun/ pinggul selalu lebih tinggi dari lutut, kurangi rebahan dan leyeh-leyeh).
  4. Latihan fisik (powerwalk intens dimulai dari 10 menit/hari sampai mampu 1 jam/ hari saat usia mendekati HPL, renang, senam ibu hamil)
  5. Bekerjasama dengan birth partner (diskusikan dan minta suami mengambil perannya dalam hamil dan lahiran)
  6. Memilih birth provider (bidan, dokter) yang mendukung lahiran nyaman. Usahakan.
  7. Latihan pernapasan. Ini ada porsi tersendiri, di luar latihan fisik. Karena mengelola napas = mengelola emosi.
  8. Birth plan bikin rencana mau lahiran bagaimana, caranya bagaimana, maunya gimana.
  9. Visualisasi (kayak gladi resik), aku kemarin mencoba dengan menulis birth story seakan-akan aku sudah lahiran. Misalnya : Alhamdulillah, telah lahir anak kami dengan selamat, lembut & nyaman, dll pada hari, jam, waktu dhuha… (aku ngedit tulisan ini setiap hari sampai malam hari sebelum lahiran)

Hasilnya? Biidznillah sesuai dengan visualisasi kawanku. Mulai dari usia kandungan juga waktunya. MaasyaaAllah.

Aku faham, yang namanya melahirkan itu pasti sakit. Tapi kesiapan fisik dan psikis ibu dalam menghadapi rasa sakit itu yang harus dilatih dan dikelola. Aku percaya, Allah sudah ciptakan tubuhku sempurna untuk siap menghadapinya. Biidznillah.

Semoga Allah mudahkan aku dan bayiku berjuang hingga melahirkan dengan selamat, lancar, nyaman dan lembut. Aamiin ya Allah.

Udang

Pict by pexels

Alhamdulillah. Akhirnya tiba pula masanya anak sulungku menggemari olahan udang. Meskipun cuman jenis udang tepung yang digoreng crispy.

Tapi ini kemajuan. Ngeliat si dia sukarela aja mengunyah potongan udang itu bikin aku senyum sumringah. Kayak doyan banget. Hahaha….

Sebelumnya, si sulung ini keukeuh menolak segala bentuk olahan udang “yang disadarinya”. Baik udang goreng tepung, tumis udang tanpa kulit, juga udang bakar manis. Bahkan bakwan jagung yang diselipin udang — kalau dia tahu mengandung udang — aura wajahnya berubah. Kayak ngerasa gimana gitu. Padahal aku dan ayahnya itu penggemar olahan udang.

Anak-anak ya memang begitulah. Ragam makanan favoritnya belum konsisten. Alias berubah-ubah. Tapi aku berharap sih anak-anakku tetap doyan buah-buahan. Emang sih buah-buahan umumnya disukai semua kalangan. Terutama yang rasanya manis. Segar dan kaya nutrisi. Maasyaa Allah.